Peristiwa

Kisah Simon Nainggolan, Penyintas Covid-19 (1)

Corona dan Kesunyian Pemakaman Seorang Ibu di San Diego Hills

Simon Nainggolan dan istrinya Lokadita

Jakarta (beritajatim.com) – Demam mendadak menyergap tubuh renta Hariana Sebayang. Suhu badannya naik. Perempuan berusia 66 tahun itu mengalami sesak napas pada 14 Maret 2020.

Kecemasan pun menyergap Simon Nainggolan. Setahu pengusaha kuliner masakan padang yang tinggal di Jakarta ini, sang mertua tak memiliki riwayat sakit parah. Namun di tengah ancaman wabah Covid-19, siapa yang tak cemas.

Empat hari kemudian, Simon dan istrinya Lokadita Brahmana membawa Hariana ke Rumah Sakit Bunda. Kekhawatiran terbukti: Hariana harus diisolasi di ruang instalasi gawat darurat yang sudah diubah menjadi ruang isolasi bagi penderita Covid-19.

Jumat, 20 Maret 2020, giliran Simon yang diserang demam. Demam ini tak juga reda selama tiga hari. Ia memutuskan ke dokter spesialis paru-paru di Rumah Sakit Bunda. Dokter memutuskan Simon dan Lokadita harus menjalani tes swap dan foto ronsen paru-paru. Hasilnya: ada bercak-bercak di paru-paru kanan Simon.

Dugaan pertama: Covid-19 menyerang tubuh Simon. Hasil tes swap baru bisa diketahui beberapa hari kemudian. Simon tak mau ambil risiko. Dia memilih melakukan isolasi mandiri di rumahnya di kawasan Menteng. Ada kamar kosong di lantai dua yang bisa digunakannya. Ia pun mengurung diri bak petapa, menjauhkan diri dari Lokadita dan Gabriella Gaia, anaknya yang baru berusia delapan tahun.

Ini bukan urusan gampang. Simon berusaha mendisiplinkan diri sendiri. Tak ada sama sekali kontak fisik. Makanan dan minuman diletakkan di depan pintu kamar. Alat-alat makan dicucinya sendiri. Dia rajin mengonsumsi vitamin C, D, dan E. Jus buah-buahan diteguknya tak tersisa. Demam dan suhu badan coba diredakan dengan minum Paracetamol. Beruntung, dia tak mengalami sesak napas seperti sang mertua.

Namun badai baru saja menjelang. Kamis dini hari, 26 Maret, pukul tiga: Hariana wafat. Di tengah semua keterbatasan, Simon dan Lokadita mengurus pemakaman secepatnya. Jenazah harus dimakamkan segera sesuai prosedur penderita Covid-19. “Di sinilah kepedihan demi kepedihan kami harus jalani. Kami hanya berdua saja mengurus agar bisa segera selesai,” kata Simon.

Pukul delapan pagi, jenazah Hariana dibawa ke pemakaman di San Diego Hills dengan ditemani Lokadita dan seorang pendeta. Tubuh Simon masih dihajar demam tinggi. Isolasi mandiri juga belum selesai, sehingga dia tak bisa menemani saat-saat terakhir sang mertua. “Hancur hati kami melihat kondisi seperti ini,” katanya.

Hanya foto-foto prosesi pemakaman yang dikirimkan Lokadita yang mampir ke ponsel Simon. Foto-foto yang membuatnya semakin terpukul. “Ibunda kami terkasih harus dikubur dengan dibungkus plastik dan tak ada handai taulan dan teman-teman yang ikut mengantar kepergian beliau,” kata Simon.

Simon merasa sunyi. [wir/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar