Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Cerita Warga Desa Tugurejo Ponorogo, Detik-detik Rumah Nyaris Tertimpa Longsor

Ponorogo (beritajatim.com) – Warga terdampak bencana tanah longsor di Dusun Tugunongko Desa Tugurejo Kecamatan Slahung Ponorogo masih bertahan di posko pengungsian. Mereka masih enggan kembali ke rumahnya, karena takut terjadi longsor susulan. Jika nanti terjadi hujan deras lagi.

Wasidi (48) warga yang terdampak, menceritakan rumahnya yang nyaris saja tertimbun tanah material longsor. Pada jumat (19/11) malam lalu, sekitar pukul 23.00 WIB, dirinya mendengar suara gemuruh di belakang rumahnya. Setelah dicek ternyata suara gemuruh itu material longsor. Jarak material itu hanya 5 meter dari rumahnya.

“Saya lihat ke belakang rumah, pohon-pohon sudah tidak ada lagi. Material longsoran jaraknya hanya 5 meter dari rumah,” ungkap Wasidi, Selasa (23/11/2021).

Melihat keadaan di belakang rumahnya, Wasidi langsung panik. Ia ingin segera menyelamatkan istri dan anaknya yang masih berumur 7 tahun. Dia masuk ke dalam rumah menggendong anaknya dan memberitahu sang istri, untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Pikirannya saat itu hanya yang penting nyawa saya, istri dan anak saya selamat. Cari tempat yang lebih aman,” katanya.

Kejadian tanah longsor itu juga diinformasikan Wasidi kepada para tetangganya. Tercatat ada 9 kepala keluarga yang rumahnya dekat dengan material longsoran. Di mana jika terjadi hujan deras lagi, potensi longsor susulan selalui menghantui rumah dari 9 kepala keluarga tersebut.

Sebelum terjadi longsor pada hari Jumat malam tersebut, hujan deras disertai petir mengguyur Dusun Tugunongko sejak sore hari. Malamnya, dusun itu sempat listrik padam selama 2 jam. Sekira 3 jam hujan deras, hingga akhirnya sekitar pukul 23.00 WIB terjadilah tanah longsor.

“Ya enggak bawa benda berharga, yang ada dipikirkan cuma selamatkan diri dan keluarga saja,” katanya.

Melihat fenomena alam yang seperti itu, Wasidi ke depan berencana untuk pindah rumah. Dia dan keluarga tidak berani kalau harus tinggal disitu. Dimana setiap hari diliputi kecemasan, sebab bencana bisa setiap saat terjadi. Jika hujan turun dengan deras lagi, bukan tidak mungkin bisa longsor lagi.

“Saya juga memikirkan masa depannya nanti. Kalau masih bertahan disitu, pasti setiap hari wasa-was terjadi longsor lagi. Saya harus pindah dari situ,” pungkasnya. (end/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar