Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Belum Bisa Berangkat

Cerita Pilu CJH Asal Lamongan, Visa dari Kedubes Arab Saudi Tak Terbit

CJH asal Lamongan Munasri, yang terkendala visa, didampingi Bupati Lamongan saat di Pendopo Lokatantra, Sabtu (5/6/2022)

Lamongan (beritajatim.com) – Nasib pilu dialami oleh Munasri (65). Keberangkatan calon jemaah haji (CJH) asal Desa Sendangagung, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan tertunda karena terkendala visa. Diketahui, Munasri merupakan satu dari tiga calon haji asal Lamongan yang terkendala masalah visa. Hanya saja, persoalan visa yang dialami oleh Munasri ini karena faktor usia.

“Ibu Munasri masih diusahakan ke kedutaan, karena usianya mepet di batas akhir 65 tahun, masih terblokir sistem aplikasi, sehingga visa-nya belum bisa muncul,” ujar Kepala Kantor Kemenag Lamongan, Fausi, didampingi Kepala Seksi Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Lamongan, Banjir Sidomulyo, Sabtu (11/6/2022).

Fausi menjelaskan, visa Munasri hingga kini belum terbit dari Kedubes Arab Saudi. Meski begitu, Direktorat Penyelenggara Haji dan Umrah (PHU) Pusat terus mengupayakan agar perempuan kelahiran 30 Juni 1957 tersebut bisa berangkat ke tanah suci pada tahun ini.

“Sampai saat ini visa untuk Bu Munasri belum terbit dari Kedubes Arab Saudi, masih diupayakan oleh Pihak Direktorat PHU Pusat. Sambil menunggu visa terbit, untuk sementara Bu Munasri masih berada di keluarganya (rumahnya),” terang Fausi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Munasri merupakan CJH asal Lamongan yang masuk kloter 5, dengan nomor porsi 1300515816, yang dilepas pemberangkatannya pada tanggal 6 Juni 2022 ke Asrama Haji Sukolilo. Kloter ini dijadwalkan terbang pada 7 Juni 2022 bersama 298 calon haji asal Lamongan lainnya.

Bahkan, Munasri yang ikut dalam KBIH Babussalam ini juga sempat mendapat predikat sebagai jemaah haji tertua asal Lamongan pada musim haji 1443 H, yang diserahkan langsung sertifikatnya oleh Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, di Pendopo Lokatantra, Sabtu (5/6/2022) lalu.

Berbeda dengan Munasri, dua calon haji asal Lamongan lainnya yang sempat mengalami hal sama dengan dirinya, yakni Sri Indah dan Sumartik kini telah berangkat. Visa keduanya bisa keluar atau terbit setelah dikabarkan sebelumnya terkendala masalah visa yang dinilai tidak valid.

Sehingga, imbuh Fausi, dengan direvisinya perbedaan data antara paspor dan visa tersebut, maka kedua calon haji asal Lamongan ini bisa diberangkatkan ke Tanah Suci meski bergabung dengan kloter berikutnya.

“Alhamdulillah, sudah selesai Visa Bu Sri Indah dan Pak Sumartik sudah terbit. Pemberangkatannya diikutkan kloter terdekat setelah visanya diterima. Keduanya berangkat bersama kloter 9, pada tanggal 10 Juni 2022 dan terbang pada pukul 05.40 WIB,” tandasnya.

Mengenai kendala yang dialami oleh Sri Indah, Fausi menjelaskan, awalnya nomor paspor telah tertukar dengan nama jemaah asal daerah lain yang memiliki nama mirip. Sehingga data tersebut dinilai tidak valid.

Munasri bersama Bupati Lamongan

“Namanya ada kemiripan atau hampir sama, sama-sama ada kata ‘Sri’. Tapi ternyata setelah diteliti, nama itu tertukar dengan jemaah lain yang berasal dari Lampung, info yang saya dapat seperti itu. Untuk selanjutnya saya kurang tahu,” sebutnya.

Sementara untuk kendala yang dialami oleh Sumartik, Fausi menuturkan, karena terjadi kesalahan dalam penulisan jenis kelamin. “Sumartik ini laki-laki, tapi namanya dikira perempuan, akhirnya visanya terbit dengan jenis kelamin perempuan. Alhamdulillah visa sudah diperbaiki dan sudah terbit,” paparnya.

Lebih jauh Fausi mengungkapkan, adanya perbedaan data antara paspor dan visa yang dialami oleh dua calon haji tersebut diduga karena adanya kesalahan sistem robotik.

“Ya, itu lah kelemahan mesin, kadang tidak bisa dideteksi oleh SDM-nya. Pengalaman sejak berlaku e-Visa, nama-nama yang diawali dengan kata ‘Sri’ dan ‘Siti’ itu memang rawan keliru atau tertukar. Ini analisis dari pelaku operator Siskohat,” pungkasnya. [riq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar