Peristiwa

Sebuah Klarifikasi

Cerita Pembawa 2000 Porsi Mi Ayam di Longsor Nganjuk

Para relawan menyajikan mi ayam yang sudah matang di depan kantor Kecamatan Ngetos, Kamis (18/2/2021)

Surabaya (beritajatim.com) – Parmu, warga Magersari Sidoarjo tidak menyangka niat baiknya membantu korban bencana longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos, Nganjuk berbuntut panjang. Bahkan hingga saat ini dirinya harus berurusan dengan kepolisian. Parmu harus absen semimggu sekali ke Polres Nganjuk.

Parmu adalah Ketua Pamas (Paguyuban Mi Ayam Surabaya). Organisasi ini anggotanya belasan pedagang mi ayam di Surabaya. Meski berkecimpung dalam perdagangan, namun bagi mereka hidup bukan hanya mengejar materi. Ada beberapa sisi lainnya. Termasuk sisi sosial dan kemanusiaan. Nah, lewat organisasi inilah para UMKM (Usaha Kecil Mikro dan Menengah) yang tergabung dalam Pamas menebar solidaritas.

Oleh sebab itu, begitu mendengar bencana tanah longsor menerjang Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Minggu (14/2/2021) malam, rasa kemanusiaan anggota Pamas terketuk. Mereka kemudian menggelar rapat sederhana untuk menyikapi bencana itu. Hasilnya, para pedagang mie ayam ini menggalang donasi. Mereka menyepakati memberikan sumbangan sebesar Rp 10 juta.

“Kalau biasanya, sumbangan kita transfer. Semisal ketika ada bencana di luar Jawa. Namun karena ini lokasinya dekat, sumbangan kita antar langsung ke lokasi,” kata Parmu ketika dihubungi melalui ponselnya, Selasa (23/2/2021).

Pada Rabu (17/2/2021), Parmu bersama dua anggotanya Warto dan Pak Kris berangkat ke Kecamatan Ngetos untuk mengecek lokasi. Sekaligus untuk kordinasi dengan posko bencana. Sesampai di lokasi, mereka mendaftar sebagai tamu. Di lokasi itu pula, anggota Pamas ini memiliki inisiatif untuk menyumbang mi ayam 2000 porsi.

Kepada petugas di posko, Parmu menyampaikan bahwa pada Kamis (18/2/2021) dirinya akan mengirim sumbangan berupa uang tunai Rp 10 juta dan 2000 porsi mi ayam. Olahan berbahan tepung tersebut diberikan selama dua hari. Dengan rincian per hari 1000 porsi.

Pamas saat menyerahkan bantuan untuk korban longsor di Kecamatan Ngetos, Nganjuk, Kamis (18/2/2021)

Oleh petugas, Parmu diminta kordinasi dengan tim dapur umum, karena yang disumbangkan berkaitan dengan makanan. Petugas mengantar Parmu menemui penanggung jawab di dapur umum. Dari kordinasi itu, pihak dapur umum kesulitan menyediakan tempat untuk memasak. Karena kondisi dapur umum sudah penuh. Bahkan banyak mobil berlalu-lalang mengirim bantuan.

Sudah begitu, tim dapur umum juga kesulitan memberikan jadwal makan mi ayam untuk pengungsi. Karena jatah makan mulai pagi, siang dan sore sudah diakomodir oleh dapur umum. “Akhirnya kita diberi tempat di depan kantor Kecamatan Ngetos, dan jadwal pendistribusian mi ayam disepakati pada sore hari. Setelah itu saya pulang ke Sidaorjo untuk menyiapkan peralatan dan belanja kebutuhan,” ujar Parmu.

Besoknya, Kamis (18/2/2021), Parma sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Peralatan untuk memasak juga dimasukkan dalam mobil. Tim dari Pamas ini berangkat kembali ke Nganjuk sebanyak tiga rombongan/mobil sekitar pukul sembailan pagi. Mereka berjumlah delapan orang. Sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan tiba di lokasi.

Parmu menyerahkan bantuan untuk korban berupa uang tunai Rp 10 juta di pos dua. Dilanjut kemudian menyiapkan segala sesuatunya untuk memasak. Walhasil, di lokasi banyak relawan yang membantu memasak mi ayam. Tak ayal, pada pukul 15.00 WIB, mi ayam sudah siap disantap. Ada yang diwadahi mangkuk, ada juga yang diwadahi cup. Semua ingin makan mi ayam.

740 Porsi Mi Ayam Tandas

Para relawan membantu memasak mi ayam di depam kantor Kecamatan Ngetos, Kamis (18/2/2021)

Sore itu, sebanyak 740 porsi mi ayam disajikan. Bahkan sekitar pukul 17.30 WIB, daging ayam yang digunakan untuk capuran mi sudah tandas. “Ramai banget sore itu. Semua ingin makan mi ayam. Hingga menjelang magrib, sudah 740 porsi mi ayam yang kita sajikan,” kata Parmu.

Sore itu juga Parmu bersama timnya melakukan bersih-bersih serta mencuci peralatan masak. Kemudian disambung dengan salat magrib di musala belakang Kecamatan Ngetos. Parmu bersama rombongan juga menggelar doa bersama untuk para korban longsor yang meninggal.

Karena semua sudah beres, seluruh anggota Pamas kembali ke Surabaya. Mereka sampai rumah sekitar pukul sembilan malam. Mereka langsung istirahat, karena besok paginya masih ada acara serupa. Yakni kembali menyajikan 1000 porsi mi ayam untuk pengungsi.

Namun keesokan harinya, Parmu kaget karena mendapatkan kabar dari temannya tentang pengungsi di Nganjuk yang keracunan. Dia tak habis pikir hal itu terjadi, karena semua proses memasak sudah dilakukan sesuai tahapan. Semua bumbu juga higienis.

Parmu kemudian kembali berangkat ke Nganjuk. Dia menemui petugas yang ada di posko bencana. Dari situ Parmu mendapat penjelaskan bahwa ada sekitar 40 orang yang mengalami gejala mual dan muntah. Parmu juga ditemui oleh petugas dari Polres Nganjuk. Dia lalu dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Termasuk peralatan memasak berikut mi juga dibawa ke kantor polisi.

Proses merebus mi ayam di depan kantor Kecamatan Ngetos

“Saya dimintai keterangan mulai Jumat jam tiga sore sampai malam. Saya ya biasa saja. Semuanya saya jawab. Karena niat saya dari awal benar-benar baik, membantu korban longsor. Setelah dimintai keterangan, kemudian saya pulang,” kata Parmu mengungkapkan.

Hingga beberapa hari kemudian polisi mengumumkan hasil uji lab bahwa penyebab keracunan karena kandungan formalin pada mi ayam. Namun demikian, Parmu masih juga penasaran. Karena dirinya juga belum mendapatkan salinan hasil uji lab tersebut.

“Mi ayam yang kami sajikan 700 porsi lebih. Sementara yang mengalami keracunan sekitar 40 orang. Kok memvonis yang menyebabkan keracunan adalah mi ayam. Makanya kami ingin mengetahui salinan hasil uji lab itu,” katanya.

Parmu bercerita, bukan kali ini saja dirinya melakukan bakti sosial dengan memberikan mi ayam secara gratis. “Kalau acara agustusan, kami juga memberikan bantuan mi ayam untuk warga. Dan semuanya tidak pernah ada masalah,” sambungnya.

Parmu berharap, masalah mendera dirinya tidak berlarut-larut. Tidak semakin melebar. Karena niat awal yang dilakukan oleh Pamas adalah membantu meringankan korban longsor. Membangun solidaritas sosial antar sesama. “Kok jadinya malah seperti ini. Sampai sekarang belum kelar. Saya ini bingung harus bagaimana,” kata Parmu sembari mendoakan agar semua pengungsi kondisinya membaik. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar