Peristiwa

Cerita ABK Asal Jombang Jalani Karantina 15 Hari di Italia

Gery Prasetyo saat ditemui di rumahnya Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Jombang. [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Gery Prasetyo (27) keluar dari kamar. Dia duduk di atas kursi plastik warna merah di ruang tamu rumahnya. Masker warna telur asin menutup hidung dan mulutnya. Gery dengan lancar menceritakan pengalamannya menjalani karantina selama 15 hari di hotel Italia.

Gery adalah ABK (anak buah kapal) di perusahaan kapal pesiar asal Italia. Dengan kapal itu, dia berpesiar dari negara satu ke negara lainnya. Beruntung, saat virus corona atau Covid-19 mengganas di negeri Pizza, Gery sedang berada di Dubai.

Namun di tengah kondisi itu, ada kabar mengejutkan. Perusahaan mengambil kebijakan bahwa seluruh ABK harus kembali ke Italia. Gery tak habis pikir. Di tengah pandemi corona, dia harus masuk ke Italia. Di tengah kekalutan, Gery hanya bisa pasrah. Dia menuruti perintah perusahaanya.

Perjalanan dari Dubai ke Italia memakan waktu satu minggu lebih. Begitu sampai di Italia, bapak satu anak ini langsung dimasukkan dalam hotel bersama ABK lainnya. Gery harus menjalani karantina selama 15 hari. Selama itu, dia tidak boleh kontak dengan orang lain. Hari-hari yang penuh kesepian dan cukup menyiksa.

Walhasil, suami dari Dewi Rosa ini mampu menjalaninya dengan sempurna. Pada hari terakhir, dia juga mejalani tes kesehatan dari tim dokter. Gery dinyatakan negatif corona. Dia pun disilakan kembali ke Indonesia. “Karantina di Italia kami jalani pada akhir Maret. Kemudian kami dicutikan. Saat di Italia, kami menandangtangani kesepakatan tersebut. Termasuk hak-hak yang saya peroleh selama menjalani cuti,” kata Gery yang ditemui di rumah mertuanya Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, Jombang, Rabu (15/4/2020).

Terbang dari Italia, Gery dkk mendarat di Bali. Lagi-lagi, saat berada di Pulau Dewata, mereka harus menjalani tes kesehatan serta dikarantina selama satu hari. Baru kemudian diterbangkan ke Bandara Juanda Surabaya. Penerbangan tersebut sangat berkesan bagi pria kelahiran Desa Banjarsari, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang ini.

Ruangan UKS di SDN Rejoagung tempat Gery menjalani karantina ketika pulang kampung. [Foto/Yusuf Wibisono]
Betapa tidak, pesawat Garuda yang memiliki kapasitas ratusan penumpang, hanya diisi 10 orang. Sudah begitu, tempat duduk mereka juga harus berjauhan. Tiba di Juanda, Gery disambut hangat oleh keluarganya. Dengan menggunakan mobil, mereka kemudian meluncur ke Ploso Jombang.

Namun sebelum sampai rumah, lagi-lagi Gery harus menjalani pemeriksaan di RSUD Ploso. Hasilnya, pria berkulit putih ini dinyatakan sehat. Namun demikian, bukan berarti ABK kapal pesiar ini bisa tidur nyenyak di rumahnya. Karena dia harus mengikuti aturan di desa. Yakni, menjalani karantina lagi selama 14 hari.

Gery mematuhi aturan tersebut. Semua demi kebaikan seluruh warga desa. Selanjutnya, mulai Selasa (7/4/2020), dia menginap di ruang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) SDN Rejoagung, seorang diri. Itulah malam-malam yang menakutkan bagi Gery. Dia tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam selalu muncul suara aneh. Setiap malam, Gery diteror hal di luar nalar.

Mulai suara orang berjalan, suara gaduh di sudut ruangan, suara genting yang dilempari, hingga suara bangku roboh secara bersamaan. “Saya hanya kuat menjalani karantina selama empat malam. Situasinya sangat mencekam. Kemudian saya izin ke Pak Kepala Desa untuk isolasi mandiri di rumah,” pungkas Gery yang mengisahkan pengalamannya secara runtut. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar