Peristiwa

Cak Nun: Negara Akan Hancur Jika Rakyat Tak Bersatu

Malang (beritajatim.com) – Ribuan Jamaah Maiyah memadati Lapangan Satya Haprabu Mapolres Malang, Senin (29/7/2019) malam. Markas Kepolisian Resor di Jalan Ahmad Yani 1, Kota Kepanjen, Kabupaten Malang ini pun, penuh sesak dalam acara Sinau Bareng bersama Budayawan Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjeng.

Mengambil tema ‘Pererat Tali Silaturahmi Pasca Pemilu 2019, Kita Semua Bersaudara’, ribuan jamaah sudah memadati Lapangan Polres Malang sejak petang. Kehadiran Cak Nun bersama kelompok musik Kiai Kanjeng ini dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara Ke-73.

Ditanya tema dalam Sinau Bareng malam ini, Cak Nun mengajak seluruh masyarakat memahami kembali skala prioritas dalam hidup. “Hari ini kita memahami kembali. Kalau bahasa Arabnya, afdholiyah. Kalau bahasa modern-nya, skala prioritas,” ungkap Cak Nun, Senin (29/7/2019), sebelum acara dimulai.

Kata Cak Nun, yang pertama dalam hidup haruslah Tuhan. “Tuhan itu nomer satu. Kedua Nabi, ketiga Ibu. Keempat Bapak dan keluarga kita. Kelima baru negara. Seandainya tidak ada negara, kita tetap berkeluarga kan?,” tegas Cak Nun.

Dimata Cak Nun, negara bukan sesuatu yang harus disembah. Negara, hanyalah sesuatu yang diolah manusia karena dalam negara ada air, ada tanah dan kekayaan. Dan itu amanat dari Tuhan pada manusia untuk mengelola sebuah negara.

“Mengelolah negara itu amanat dari Tuhan. Terserah manusia mau bikin negara atau kerajaan. Jangan menyembah negara, menyembah Presiden. Tapi yang terjadi, kita justru terbolak-balik. Karena menjadikan Presiden seperti Gusti Allah. Ini yang harus kita kembalikan, memahami skala prioritas dalam hidup,” ujar suami dari Novia Kolopaking ini.

Pria kelahiran Desa Mentoro, Jombang ini menjabarkan, semisal Presidennya Jokowi, maka semua juga tetap mandi, tetap menikah dan berkeluarga, tetap bekerja. “Kalau pun Presiden ganti, apa kita gak mandi, kita gak menikah, kita gak bekerja. Karena yang pertama memang Tuhan. Baru keluarga kita, keluarga harus utuh meski kita beda pilihan Presiden. Tapi kok ya ada yang sampai bercerai karena beda pilihan Presiden. Ini kan sangat keterlaluan,” kata Cak Nun menegaskan.

Ditanya pesan bagi Elite Politik pasca Pilpres? Budayawan asal Jombang ini mengatakan bahwa para elite politik tidak membutuhkan keberadaanya. “Elite politik gak butuh saya. Mereka gak akan mendengarkan saya,” katanya.

Disinggung soal bagi-bagi kue kekuasaan? “Silahkan saja, monggo dimakan kue kekuasaan sesukanya. Saya gak masalah. Biar saya menemani rakyat kecil saja. Saya bagian mengumpulkan rakyat, agar rakyat tidak retak. Saya cukup berada di level bawah, setingkat kabupaten ke bawah. Ke Polres-Polres dan Polsek saja. Karena itu juga bagian tugas dalam hidup ini. Menemani rakyat bawah. Karena saya juga tidak punya tugas kenegaraan, tugas pemerintahan. Bagi saya yang penting baik dengan semua orang,” paparnya.

Ditanya peran Jamaah Maiyah pasca Pilpres 2019? Dengan lantang Cak Nun berucap, bahwa Maiyah bukan siapa-siapa. “Maiyah itu siapa? Bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Maiyah ini cuma orang berkumpul, biar gak stres. Biar hatinya lapang. Hidupnya bersemangat, bersahabat dengan benar. Karena Maiyah itu hanya ingin saling tolong menolong. Menghibur, membenahi satu sama lain. Dan saya tidak ingin mencari peran kok,” urainya.

Cak Nun menambahkan, bersama Maiyah, ia hanya ingin merawat rakyat yang tinggal di desa-desa. “Sehebat apapun negara, kalau rakyatnya tidak bersatu pasti akan hancur,” Cak Nun mengakhiri. [yog/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar