Peristiwa

Buruh Maska Peringati 25 Tahun Tragedi Magrib Berdarah

Jombang (beritajatim.com) – Puluhan eks buruh CV Maska Perkasa Jombang menggelar peringatan 25 tahun TMB (Tragedi Magrib Berdarah), Sabtu (17/10/2020). Acara yang dikemas dalam istighasah dan doa bersama itu bertempat di rumah aktivis buruh Dwi Sumarsono, Dusun Sumbernongko, Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Dalam acara tersebut para aktivis juga menyampaikan testimoni. Mereka mengenang peristiwa yang terjadi 25 tahun silam itu. Yakni ketika demonstrasi buruh Maska dibubarkan aparat, 17 Oktober 1995.

Saat itu, ribuan buruh CV Maska berdemonstrasi ke kantor Depnaker Jombang di Jl Anggrek. Nah, tepat saat kumandang magrib terdengar, apara bersenjata lengkap membubarkan aksi tersebut. Buruh digebuk hingga kocar-kacir. Bahkan tidak jarang dari mereka mengalami luka-luka. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan ‘Tragedi Magrib Berdarah’.

“Awalnya, saya dikeroyok dua aparat. Saya tidak menyerah, saya tetap melawan. Kemudian ada 24 aparat yang ikut mengepung. Dari situlah saya dipukuli,” kata Slamet, salah satu buruh Maska saat menyampaikan testimoni.

Peristiwa kekerasan tersebut memantik solidaritas dari kalangan mahasiswa. Mereka kemudian membentuk KSBM (Komite Solidaritas Buruh Maska) yang diketuai Syamsunar. Keesokan harinya mahasiswa menggelar aksi di gedung DPRD setempat. Mereka menuntut Bupati Jombang Soewoto Adi Wibowo mundur dari jabatannya.

Dari aksi tersebut, tiga mahasiswa ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah Misbahul Zakaria (fakultas pertanian), Syamsunar (fakultas hukum) dan M Romli (fakultas hukum). Ketiganya diseret ke meja hijau. Persidangan tiga mahasiswa itu berjalan cukup lama, memakan waktu satu tahun lebih.

Sejumlah pengacara kondang turun ke Jombang untuk mendampingi tiga aktivis itu. Di antaranya, Adnan Buyung Nasution, Artijo Alkosar, Munir, Bambang Widjajanto, Trimulya D Soerdjadi dan sederet pengacara kondang lainnya. Para lawyer tersebut mendampingi tiga aktivis Jombang yang sedang dijerat pasal karet. Hingga 1997, persidangan masih berlangsung.

“Demonstrasi buruh di Jombang inu menyita perhatian nasional. Pengacara nasional, aktivis, ikut turun ke Jombang. Bahkan demo buruh Maska menjadi trigger gerakan buruh lainnya,” kata Ipul, panggilan akrab Misbahul Zakaria, dalam testimoninya.

Selain buruh Maska, sejumlah aktivis era 1990-an juga hadir dalam reuni tersebut. Di antaranya, M Djali, Nur Rahman Al Jadab, Rindra Iman Lesmana, Hari Dwi Cahyono, Wibisono, M Masrur, Tarnoto Kicas, serta beberapa aktivis lainnya. Selama acara berlangsung seluruh yang hadiri menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Hadir pula Wakil Ketua DPRD Jombang Doni Anggun.

Dwi Sumarsono, aktivis buruh menambahkan, saat demonstrasi kasus Maska. Buruh dan mahasiswa bergandeng tangan. Buruh membentuk organisasi bernama Kabut (Kelompok Buruh Tertindas). Sejak itulah gerakan buruh semakin masif.

“Hari ini kita bertemu kembali setelah 25 tahun. Forum ini sebagai ajang sulatirahmi bagi kami. Acara serupa akan kita gelar rutin setiap tahun,” ujar Dwi yang saat tragedi magrib berdarah menjabat sebagi Ketua Kabut. [suf/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar