Peristiwa

Bunsu Anton: Banyak Orang Salah Kaprah Soal Imlek

Malang (beritajatim.com) – Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Malang, Bunsu Anton Triyono mengatakan, banyak orang yang salah kaprah memaknai Imlek.

“Makna Imlek itu sendiri banyak orang yang salah kaprah. Padahal Imlek itu adalah karunia Tuhan sendiri, sebab Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dengan segala hukum-hukumnya. Imlek adalah datangnya musim semi di muka bumi, khususnya di belahan bumi utara,” terang Bunsu Anton, Minggu (3/2/2019) malam.

Pria berumur 78 tahun itu menjabarkan, belahan bumi bagian utara itu letaknya negara Cina. Sehingga, yang lebih merasakan datangnya musim semi sudah tentu bangsa Cina. “Tapi Cina sudah melanglang buana ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sehingga, perayaan musim semi atau Imlek juga ikut dirasakan masyarakat Indonesia,” urai Bunsu Anton.

Menurut Bunsu, kegembiraan datangnya Imlek atau musim semi inilah, yang seharusnya disyukuri sebagai karunia Tuhan. “Karena Tuhan memberi kita musim semi, ya sangat bahagia. Dan disimbolkan dengan warna merah yang berarti rasa ungkapan kegembiraan. Dengan musim semi itulah, kita bisa bercocok tanam dengan baik. Khususnya di Indonesia karena daerahnya agraris,” papar Bunsu Anton yang juga Rohaniawan Umat Khonghucu di Malang Raya.

Masih kata Bunsu, dirinya kerap memberikan wejangan pada seluruh sahabatnya dari lintas agama. Bahwa, sebagai bangsa Indonesia, Tuhan Yang Maha Esa sebenarnya sangat menaruh cinta kasih sesama anak bangsa dan umat manusia.

“Karena negara ini agraris, makmurkan negara yang bersalju, bukan negara yang daerahnya lautan saja. Kita hidup di negara agraris, Indonesia diletakkan oleh Tuhan Yang Maha Esa di garis khatulistiwa. Sehingga, sepanjang tahun, negara kita Indonesia menerima sinar matahari,” beber Bunsu yang juga Humas Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang tersebut.

Di mata Bunsu, Tuhan meletakkan negara Indonesia di garis khatulistiwa, menjadikan negara Indonesia menjadi subur, makmur, gemah ripah loh jinawi.

“Kami selalu sampaikan pada adik-adik mahaiswa di Malang, maka dari itu, para pendiri bangsa ini, begitu kita merdeka ikut merasakan keagungan Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga, memakai dasar negara kita dengan Pancasila. Dimana sila pertama, Tuhan Yang Maha Esa, sudah selayaknya sebagai bangsa, kita selalu mengucap syukur pada Tuhan,” pungkasnya. [yog/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar