Peristiwa

Hari Lahir Pancasila (1)

Bung Karno Paparkan Pancasila, Hadirin Berlinang Air Mata

Presiden Soekarno (AFP)

Pukul sembilan pagi, 1 Juni 1945, gedung Volksraad sudah dipenuhi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Gedung itu berarsitektur Belanda. Dindingnya dari kayu berwarna gelap, langit-langitnya dari kaca berwarna, sedangkan lantainya dari marmer padat.

Ruang yang luas di gedung itu dibagi-bagi menjadi 10 deret. Tokoh-tokoh terkemuka dari kepulauan sudah hadir. Ada kelompok Islam, ada kelompok kebangsaan, ada kelompok federalis, ada pula kelompok moderat, dan kelompok lainnya. Semua berkumpul di gedung tersebut.

Setelah sidang dibuka, Sukarno bangkit dan melangkah ke podium marmer yang berada di tempat lebih tinggi. Di podium itulah Sukarno berbicara panjang lebar. Di depan forum itu pula Sukarno mengupas lima mutiara berharga: Kebangsaan, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Demokrasi, Keadilan Sosial dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Aku menjelaskan, hari depan kami harus berdasar pada Kebangsaan, karena orang dan tempat tak dapat dipisahkan! Tidak dapat dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya,” kata Sukarno seperti dikutip dari buku bografi yang ditulis Cindy Adams berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Sukarno kemudian menjelaskan batas-batas kebangsaan. Menurut Sukarno, seorang anak kecil pun jikalau melihat peta dunia dapat menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan kepulauan di antara Samudra Pasifik dan Lautan Hindia. Di antara benua Asia dan Australia. Bangsa Indonesia, lanjut Sukarno, meliputi semua orang yang bertempat tinggal di seluruh kepulauan Indonesia. Dari Sabang di ujung utara Sumatera, sampai Merauke di Papua.

Bung Karno lantas membeberkan mutiara kedua. Internasionalisme atau Perikemanusiaan. “Itu bukanlah Indonesia Uber Alles. Indonesia hanya satu bagian kecil dari dunia. Ingatlah kata-kata Gandhi, saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan,” lontar Sukarno dalam pidatonya tanpa teks.

Pria kelahiran Surabaya ini mengingatkan agar hadirin melawan pandangan yang tidak benar. Yang menganggap ada keunggulan bangsa Arya yang berambut jagung dan bermata biru. “Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman sarinya Internasionalisme,” sambungnya.

Mutiara ketiga yang disampaikan Sukarno adalah tentang Demokrasi. Menurutnya, selama berabad-abad Indonesia hidup dengan kebiasaan asli berupa musyawarah dan mufakat. Hal itu merupakan perundingan demokratis model Asia. Bung Karno meyakini bahwa kekuatan terletak dalam pemerintahan atas dasar perwakilan.

“Kita tidak akan menjadi negara untuk satu orang atau satu golongan. Tetapi semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu,” urainya.

Suasana sidang sunyi senyap. Semua terhipnotis paparan sang singa podium. Bahkan Sukarno menggambarkan kipas angin yang menggantung di atas, berputar tanpa suara. Sementara air mata berlinangan dari pelupuk mata anggata BPUPKI.

Bung Karno lantas memaparkan mutiara keempat tentang Keadilan Sosial. Pria berpeci hitam ini tidak ingin Indonesia Merdeka tapi kaum kapitalisnya merajalela. Dia ingin semua rakyatnya sejahtera, karena merasa diayomi ibu pertiwi yang cukup memberikan sandang dan pangan. “Kita tidak ingin persamaan politik semata. Kita ingin demokrasi sosial. Demokrasi ekonomi. Satu dunia baru yang di dalamnya terdapat kesejahteraan bersama,” lanjutnya.

Terakhir, Sukarno membedah Ketuhanan Yang Maha Esa. “Marilah kita menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Biarkan masing-masing orang Indonesia bertuhan Tuhannya sendiri. Hendaknya tiap-tiap orang menjalankan ibadahnya sesuai dengan cara yang dipilihnya,” papar Sukarno.

Pidato yang memakan waktu lama itu diakhiri Sukarno dengan mengenalkan nama Pancasila. Tepuk tangan bergemuruh langsung memecah kesunyian di gedung Volksraad. Hadirin serentak berdiri dari kursinya dan menerima falsafah tersebut dengan aklamasi. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar