Peristiwa

Bulan September, Kekeringan Landa 14 Desa di Ponorogo

Droping Air: Petugas BPBD Ponorogo mengecek mobil tangki pengangkut air bersih.(foto: dok. beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Memasuki pekan keempat bulan September ini, daerah di Ponorogo yang mengalami kekeringan dan membutuhkan air bersih sebanyak enam kecamatan. Catatan BPBD Ponorogo, dari enam kecamatan tersebut terbagi menjadi 14 desa dan 20 dusun.

”Setiap hari kami droping air bersih ke daerah di Ponorogo yang mengalami kekeringan. Dalam seminggu sudah terjadwal dusun mana saja yang akan kita droping,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo, Setyo Budiono saat dihubungi lewat sambungan telepon, Minggu (22/9/2019).

BPBD Ponorogo, kata Budi selama seminggu bisa mendroping air bersih sebanyak 70 tangki. Dengan kapasitas setiap tangki berisi 6 ribu liter air bersih. Budi menyebut desa Duri di Kecamatan Slahung yang mengalami kekeringan paling parah. Jika awalnya desa itu meminta droping satu tangki, kini sudah meminta tiga tangki.

”Dalam perkembangannya, ada daerah tertentu yang sekarang meminta lebih. Dimana awalnya minta satu atau dua tangki, sekarang sudah minta tiga tangki,” katanya.

Untuk desa-desa yang menjadi langganan kekeringan di musim kemarau, Budi mendorong untuk pembuatan sumur dalam. Karena itu bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan air bersih saat mengalami kekeringan. Dananya mungkin bisa menggunakan dana desa. Dia mencontohkan desa Mrican yang biasanya kekeringan, saat ini belum ada permintaan droping air karena sudah ada bantuan sumur dalam.

”Kami hanya menyarankan saja, karena sumur dalam ini bukan tupoksi kami,” pungkasnya. [end/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar