Peristiwa

BPBD Ponorogo Pasang Alat Pendeteksi Dini Banjir dan Longsor

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono. [foto: Endra Dwiono]

Ponorogo (beritajatim.com) – Segala upaya pencegahan terjadinya bencana dilakukan oleh BPBD Ponorogo. Guna memaksimalkan penanganan sejak dini, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Ponorogo memasang Early Warning Sistem (EWS) di sungai-sungai yang dinyatakan rawan banjir.

Selain itu juga memasang Extensometer (pengukur gerak tanah) di Desa Talun, Kecamatan Ngebel dan Desa Wates, Kecamatan Sawoo. “Semoga dengan alat-alat itu, kita bisa mendeteksi bencana sedini mungkin,” kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono, Kamis (9/1/2020).

BPBD juga sudah mengumpulkan berbagai komunitas relawan di Ponorogo guna melakukan koordinasi dan pembinaan. Begitu juga dengan peralatan kebencanaan seperti perahu untuk evakuasi korban. “Pembinaan dilakukan supaya sewaktu-waktu terjadi bencana, semuanya siap,” katanya.

Budi, sapaan Setyo Budiono, menyebut, sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim hujan akan terjadi pada Februari dan Maret. Menurut data BPBD Ponorogo, dari 21 kecamatan yang ada di bumi reyog, 19 kecamatan dinyatakan rawan bencana.

Dengan rincian, 12 kecamatan rawan tanah gerak dan longsor, serta 7 kecamatan rawan banjir. “Tiga kecamatan yang aman adalah Kauman, Mlarak dan Kecamatan Siman,” pungkasnya. [end/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar