Iklan Banner Sukun
Peristiwa

BPBD Magetan Catat Potensi Kekeringan di 11 Desa

Warga Desa Krajan, Kecamatan Parang yang melakukan pengambilan air di Sumber Sejok karena sumur mengalami kekeringan pada tahun 2019 silam. (foto: Fatihah Ibnu Fiqri)

Magetan (beritajatim.com) – Tahun ini kekeringan di Kabupaten Magetan diprediksi lebih kecil ketimbang tahun sebelumnya. Musim kemarau tahun ini mundur dibandingkan tahun lalu . Dua tahun lalu  pada April sudah memasuki musim kemarau.

Saat ini curah hujan sudah mulai rendah untuk wilayah Magetan. BMKG Stasiun Klimatologi Malang, memprediksi kalau pada bulan Agustus sudah rendah khususnya untuk wilayah Magetan, khususnya di wilayah Magetan.

‘’Curah hujan kurang dari sepuluh persen saja,’’ ungkap Ari Budi Santosa, Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Kamis (2/9/2021).

Tahun 2019, ada 11 desa di tiga kecamatan yang mengalami kekeringan. Namun, tahun ini diperkirakan tidak separah tahun lalu. Mengingat beberapa desa sudah ada sumur dalam bantuan dari BNPB Provinsi dan juga ada program pamsimas. Sebagian, pamismas baru tahap pembangunan dan baru bisa digunakan tahun depan.

‘’Khsuusnya di Desa Kuwon dan Karas, Kecamatan Karas Desa Trosono Parang, dan Desa Lembeyan Wetan Kecamatan Lembeyan, yang pamsimasnya sudah siap’’ katanya.

Pemetaan sudah dilakukan terhadap daerah – daerah  dengan sumber air yang minim dan berpotensi kekeringan. Mengacu data tahun 2019, daerah yang mengalami kekeringan tapi belum ada pembangunan sumur dalam adalah daerah Sayutan, kecamatan Parang. ” Juga desa Sobontoro, Karas yang masih ada sekitar empat RT yang diperkirakan terdampak ’’ katanya.

Ari membenarkan kalau di daerah Parang memang sering mengalami kekeringan. Utamanya, Sayutan RT 19. Dan hanya satu RT itu saja. Sekaligus, untuk daerah Lembeyan memang sebagian juga masuk zona rawan kekeringan. Seperti Kediren dan Lembeyan Wetan maupun Lembeyan Kulon. Pembngunan sumur dalam di sawah – sawah membuat sumur warga mengering dengan cepat.

‘’Uutuk daerah Lembeyan bakal terdampak kalau kekeringannya parah,’’ katanya.

Daerah parang juga masih ada yang belum menyambung ke pipa PDAM. Selain itu, mereka juga belum memiliki fasilitas seperti Pamsimas atau galian sumur dalam yang bisa mengatasi kekeringan.

Padahal, sebenarnya ada juga masyarakat setempat yang sudah mengusahakan untuk melakukan pengeboran secara swadaya untuk memenuhi kebutuhan air mereka khususnya di musim kemarau.

‘’Tapi, kan ada juga yang tidak mampu. Sehingga butuh dropping,’’ katanya.

Tahun 2019, kekeringan sudah dimulai sejak Juli lalu, lantaran musim kemarau datang lebih awal yakni pada bulan April. Kebutuhan air untuk 11 desa yang terdampak yakni sebanyak 130.800 liter. Itu digunakan untuk mengcover 3 kecamatan sekaligus yakni Karas, Lembeyan dan Parang. ‘’Untuk tahun 2020, Magetan tidak terjadi kekeringan,’’ ungkapnya.  (fiq/ted)


Apa Reaksi Anda?

Komentar