Iklan Banner Sukun
Peristiwa

BPBD Jombang Gelar Seminar Desa Tangguh Bencana

Fasdes Begasur Kedaleman menyerahkan laporan Destana kepada Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdakab Jombang Purwanto, Rabu (22/12/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdakab Jombang Purwanto membuka seminar Desa Tangguh Bencana (Destana) 2021 yang digelar oleh BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) setempat di Hotel Green Red Syariah, Rabu (22/12/2021).

Seminar tersebut dihadiri Kades (Kepala Desa) yang ada di 20 desa yang masuk kawasan rawan bencana banjir. Desa-desa ini berada di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Konto. Selain itu, seminar tersebut juga dihadiri Fasdes (Fasilitator Desa) serta pengurus FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) tingkat kabupaten dan Desa.

Purwanto memberikan apresiasi atas terbentuknya 20 Destana yang berada di empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Ngoro, Gudo, Perak, serta Kecamatan Bandarkedungmulyo. Juga terbentuknya FPRB di masing-masing desa tersebut. Dengan begitu, lanjut Puwanto, penanggulangan bencana bisa dilakukan secara bersama-sama.

Namun demikian, Purwanto berharap, FPRB juga terbentuk di tingkat kecamatan. “Makanya ini PR (Pekerjaan Rumah) bagi empat camat untuk membentuk FPRB di tingkat kecamatan. Jangan hanya terputus di desa. Pembentukan tersebut lebih cepat lebih baik,” kata Purwanto.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), BPBD Jombang, Kepala Desa, serta FPRB tingkat desa dan kabupaten. Pencegahan dan penanganan bencana itu memang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jombang periode 2019 – 2021 ini.

Di tempat yang sama, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang Abdul Wahab menjelaskan, keberadaan Destana sangat penting. Mengingat 20 desa tersebut berada di jalur rawan bencana. Yakni DAS Konto yang merupakan jalur lahar Gunung Kelud.

Wahab lalu mencontohkan banjir yang menerjang tujuh desa di Kecamatan Bandarkedungmulyo pada Februari 2021. Banjir itu akibatnya jebolnya tanggul Sungai Konto yang ada di rolak 70. Saat itu masyarakat bingung bagaimana menghadapi datangnya bencana. Mereka bingung kemana harus mengungsi, lalu dimana harus mendirikan dapur umum.

“Hari ini kebingungan itu terjawab, yaitu dengan terbentuknya Destana. Yakni, desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana. Serta mampu memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan.

Destana juga memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman bencana di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan. Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca keadaan darurat.

Narasumber seminar Desa Tangguh Bencana 2021 di Jombang

Sebanyak 20 desa yang dikukuhkan menjadi Destana tersebut berada di empat kecamatan. Yakni, Kecamatan Ngoro, Gudo, Bandarkedungmulyo, serta Kecamatan Perak. Di Kecamatan Ngoro dibentuk enam Destana. Masing-masing Desa Ngoro, Genukwatu, Pulorejo, Banyuarang, Kauman, serta Desa Jombok. Kemudian di Kecamatan Gudo terdapat empat desa. Meliputi Desa Begasur Kedaleman, Gudo, Wangkalkepuh, serta Desa Pucangro.

Lalu di Kecamatan Perak terdapat tiga desa, yakni Jatiganggong, Kepuhkajang, dan Sumberagung. Sedangkan di Kecamatan Bandarkedungmulyo terdapat tujuh Destana. Masing-masing Desa Barongsawahan, Kayen, Gondangmanis, Bandarkedungmulyo, Mojokambang, Pucangsimo, serta Desa Brodot. Desa-desa ini berada di sepanjang aliran Sungai Konto.

Sementara itu, seminar Desa Tangguh Bencana 2021 menghadirkan dua narasumber. Pertama, Widodo dari BPBD Jatim, kemudian pemateri kedua Evy Setyorini dari DPMD (Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa) Jombang. Sedangkan sebagai moderator adalah Fasda (Fasilitator Daerah) Destana Jombang Amik Purdinata.

Widodo menjelaskan secara panjang lebar tentang upaya-upaya untuk menguatkan kelembagaan Destana. Dia juga membeber jumlah desa rawan bencana di Jatim. “Di Jatim terdapat 8.501 desa. Dari jumlah itu, sebanyak 2.742 desa masuk dalam kategori rawan bencana. Sedangkan Destana yang sudah terbentuk 702 desa. Jadi masih ada 2.740 desa yang menjadi PR,” katanya.

Narasumber lainnya, Evy Setyorini lebih banyak mengupas masalah DD (dana desa) yang bisa diserap oleh Destana guna pencegahan bencana. Forum seminar tersebut berjalan cukup dinamis. Sejumlah peserta memberikan tanggapan serta pertanyaan terkait materi yang disampaikan narasumber itu. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar