Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Gandeng UD Putra Kresna

BNPT Gelar Pelatihan Kerja Bagi Eks Napi Teroris

Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar beserta rombongan saat meninjau industri pemindangan ikan UD Putra Kresna Brondong, Rabu (17/11/2021)

Lamongan (beritatajatim.com) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Lamongan dan UD Putra Kresna memberikan pelatihan kerja bagi sejumlah penyintas terorisme atau eks napiter di Lamongan. Itu sebagai wujud pendekatan lunak dalam program deradikalisasi.

Sehubungan dengan hal itu, didampingi Wakil Bupati Lamongan Abdul Rouf, Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar bersama rombongan melakukan kunjungan ke UD Putra Kresna yang merupakan salah satu industri pemindangan ikan terbesar, di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan, Rabu (17/11/2021).

Turut hadir dalam kegiatan ini di antaranya, Deputi II BNPT, Direktur Deradikalisasi, Sekda Lamongan, Pimpinan Yayasan Lingkar Perdamaian, Dandim 0812 dan Kapolres Lamongan, serta sejumlah pejabat unsur lainnya.


Dalam kesempatan ini, Wabup Abdul Rouf mengungkapkan, Kabupaten Lamongan memiliki sejumlah potensi di bidang kelautan dan perikanan yang sangat besar. Menurutnya, hal itu dibuktikan dengan produksi perikanan Lamongan menjadi yang terbesar di Jawa Timur.

“Lamongan memiliki bibir pantai sekitar 48 km, mulai dari Desa Weru sampai Desa Lohgung. Produksi perikanannya pun terbesar di Jatim. Tahun 2020, produksi ikan mencapai 139.577 ton, dan 85 persennya dijual segar, sehingga produk per satuannya masih rendah. Oleh karena itu, Lamongan menghadirkan program Pandu Siskamaya, sebagai inovasi dalam mendukung produk olahan berbasis ikan agar bisa lebih bernilai,” ungkap Abdul Rouf.

Abdul Rouf menilai, bahwa dipilihnya UD Putra Kresna sebagai tempat untuk mengasah ketrampilan para eks napiter di bidang pemindangan ikan ini merupakan suatu yang tepat. Sehingga ke depan, mereka bisa lebih maksimal untuk menimba ilmu dan mengaplikasikannya.

“UD Putra Kresna ini siap melakukan kerjasama, mengakomodir SDM mantan napiter atau simpatisan untuk dibekali ilmu pengolahan ikan. Kami mohon arahan dan petunjuk dari Bapak Kepala BNPT agar program pelatihan ketrampilan pengolahan ikan pindang ini bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan,” terangnya.

Sementara itu, dalam arahannya Boy Rafli Amar mengatakan, pelatihan kepada eks napiter ini merupakan soft approach yang dilakukan BNPT dalam bidang pencegahan terhadap terorisme dan radikalisasi. Dalam bidang pencegahan terorisme, Boy Rafli menyebut, ada 3 pencegahan yang dilakukan menurut Undang-undang, yakni membangun kesiapsiagaan, kontra radikalisasi, dan deradikalisasi.

“Lalu yang kita lakukan saat ini adalah deradikalisasi, namun bukan di dalam lembaga pemasyarakatan, tapi di luar lapas. Menurut Undang-undang, korban penyintas terorisme atau pelaku eks pelaku mendapatkan perhatian khusus dari Negara, dan BNPT ditugaskan untuk melakukan program-program itu, termasuk program lanjutan setelah mereka keluar dari lapas,” jelas Boy Rafli.

Seiring dengan bakal digelarnya pelatihan pemindangan ikan di UD Putra Kresna ini, Boy Rafli berharap, jika para eks napiter ini nantinya bisa menyerap ilmu yang diberikan, sehingga dengan ketrampilan yang didapat ini kesejahteraan mereka bisa lebih meningkat.

“Kali ini kita diperkenalkan pada Industri Pemindangan Ikan milik Pak Wahono. Di sini adalah tempat yang cocok dan terbaik. Kita berharap ini akan jadi salah satu alternatif penanggulangan kejahatan terorisme yang berbasis kepada pembangunan kesejahteraan, dan menjadi bagian dari yang dikerjakan BNPT bagi penyintas dan keluarga,” paparnya.

Tak hanya itu, Boy Rafli juga menuturkan, sebelumnya di Kabupaten Lamongan juga ada program pemberdayaan eks napiter yang telah berjalan di bidang peternakan, pertanian dan balai pelatihan kerja lain, salah satunya melalui Yayasan Lingkar Perdamaian yang dikelola oleh Ali fauzi, bertempat di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro.

“Di Pantura ini, wilayah pesisirnya punya potensi atau hasil perikanan yang sangat luar biasa, maka bisa jadi solusi, dalam hal ini saya juga memberikan kepercayaan kepada Gus Ali Fauzi untuk meneliti dan menilai siapa teman-teman yang kira-kira punya minat dan bakat untuk melakukan pelatihan pemindangan ini,” lanjutnya.

Boy Rafli menambahkan, setelah mendapat ketrampilan dari pelatihan ini, nanti akan ada seri program berikutnya lagi, di mana kemandirian usaha para eks napiter tersebut juga harus dipikirkan, sehingga sejalan dengan program pemerintah, yakni pemberdayaan ekonomi kerakyatan, yang diyakini meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.

“Terimakasih kepada semua pihak, seluruh unsur pemerintah Lamongan, termasuk Pak Wahono ini, karena ikut serta dalam memberikan ruang, waktu, dan ketrampilan kepada eks napiter. Mudah-mudahan dengan perhatian yang diberikan ini bisa berjalan baik,” ucap Boy Rafli.

Sebagai informasi, UD Putra Kresna Brondong adalah industri pindang ikan milik Haji Wahono, yang dirintis sejak 30 tahun lalu. Dengan 35 karyawan yang ada, tempat ini mampu memproduksi ikan pindang sebanyak 3 ton perhari, dengan omset per harinya mencapai Rp 96 juta.

Selain itu, saat ini UD Putra Kresna telah memiliki cold storage dengan kapasitas 70-80 ton. Dengan produk olahan ikan pindang unggulan seperti tongkol, salem, dan layang, yang berasal dari sejumlah daerah maupun impor.

Untuk pasarnya, produk pindang dari UD Putra Kresna Brondong ini telah mampu mengcover berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, Nganjuk dan Bojonegoro. [riq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar