Peristiwa

Berpotensi Gempa Megathrust, EWS Tsunami di Banyuwangi Justru Rusak

Monumen korban tewas bencana tsunami di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran tahun 1994.

Banyuwangi (beritajatim.com) – Hasil kajian Institut Teknologi Bandung menunjukkan hasil yang memprediksi adanya potensi gempa berkekuatan besar di selatan laut Jawa. Bahkan, gempa yang disebut megathrust tersebut mampu menimbulkan gelombang tsunami mencapai 20 meter.

Kondisi ini membuat warga bertanya-tanya. Bahkan cenderung panik karena wilayah selatan Pulau Jawa termasuk Banyuwangi masuk di dalamnya.

Kendati demikian, hal lain justru semakin mencengangkan. Karena, alat peringatan dini tsunami atau early warning system (EWS) di sejumlah titik yang terpasang justru dalam kondisi rusak.

Padahal memory mengingatkan, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran pernah menjadi sejarah dahsyatnya gelombang tsunami menghantam daerah itu. Tahun 1994 silam waktu dini hari, sekitar 300 jiwa warga setempat terenggut, ratusan rumah porak poranda.

Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, ada 9 alat EWS terpasang di sejumlah titik di sepanjang garis pantai di daerahnya. Namun kondisinya miris, karena dari 9 unit hanya 2 alat yang masih berfungsi. Sementara 7 unit lainnya dalam kondisi rusak.

“Yang masih aktif dan berfungsi ada dua unit. Yakni di Kecamatan Pesanggaran dan Muncar,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi, Eka Muharam, Senin (28/9/2020).

Eka menyebut, tujuh unit alat yanh rusak itu adalah hibah dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Alat itu terpasang sejak 2013 lalu. “Itu kondisinya sudah tidak layak. Baik operasionalnya maupun jangkauannya. Sehingga harus diupgrade kembali,” kata Eka.

BPBD, kata Eka, telah menganggarkan untuk pengadaan EWS yang baru. Tapi, tahun ini belum terealisasi, karena tertunda akibat Covid 19.

“Rencananya, tiga alat itu akan dipasang di Pantai Rajegwesi, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Pantai Lampon, Desa/ Kecamatan Pesanggaran dan Pantai Grajagan, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Mudah-mudahan bisa segera direalisasikan. Sehingga tahun ini kawasan rawan bencana tsunami dengan resiko tinggi, 90 persen sudah terpasang,” ungkapnya.

Antisipasi bencana termasuk tsunami, pada intinya bukan lantaran alat (EWS). Tapi, bentuk kesadaran dan kesigapan warga di daerah sekitar potensi bencana. Paling penting dalam hal ini, yaitu menyiapkan kontigensi secara matang.

“Kontinjensi meliputi rambu, jalur, dan tempat evakuasi ketika bencana datang. Termasuk juga bagaimana penanganan dan penanggulangannya,” jelas Eka.

Dari rencana kontigensi itu, BPBD telah memetakan daerah yang rawan. Termasuk, memasang rambu dan jalur sekaligus sejumlah tempat evakuasi. Di antaranya sejumlah desa di Kecamatan Pesanggaran ada Desa Sarongan, Desa Pesanggaran, Desa Buluagung, dan Desa Sumberagung serta di Kecamatan Purwoharjo di Desa Grajagan serta beberapa desa lainnya.

“Rencana kontingensi secara blue print hitam di atas putih sudah siap. Meskipun biasanya saat bencana datang terjadi perubahan. Namun pada intinya, apa yang harus kita lakukan, siapa melakukan, bagaimana melakukan yang dirumuskan dalam rencana kontinjensi, pembagian tugasnya sudah siap,” jelasnya.

Beberapa kali, warga bersama BPBD, BNPB maupun unsus TNI-POLRI dan Pemerintah setempat melakukan rencana kontigensi termasuk mensimulasikan terjadinya bencana. Terakhir, kegiatan simulasi ini dilakukan pada (5/1/2019) lalu di Pantai Mustika, Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Simulasi bencana tsunami di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Saat itu, ada satu EWS yang baru dipasang diserahkan langsung oleh Kapolda Jatim kala itu. Alat tersebut diharapkan mampu menjadi alat bantu untuk memberikan peringatan dini jika terjadi bencana. “Waspada harus, tapi jangan berlebihan. Kita juga sudah sering melakukan simulasi kebencanaan, sehingga masyarakat sudah memiliki bekal apa yang harus dilakukan ketika bencana datang,” imbuh Eka Muharam.

Mengutip pernyataan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar kala itu Sabtu (5/1/2019), EWS menurutnya hanya alat. Hal paling penting dalam kesiapsiagaan bencana adalah kepekaan warga akan tanda-tanda alam.

“Alat itu hanya bantuan, kita semua ini punya sensor masing-masing tanda-tanda alam. Seperti tanda alam ada hewan turun atau gempa. Kalau ada EWS (Early Warning System) hanya bantuan, secara bertahap EWS kita akan perbaiki,” katanya,

Terlebih, kata Anas, daerah Dusun Pancer merupakan kawasan pariwisata. Sehingga, pemerintah memiliki peran untuk memberikan edukasi dan pemahaman terhadap warga. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar