Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Begini Upaya Densus 88 Anti Teror Polri Cegah Radikalisme di Magetan

Silaturahmi Densus 88 Anti Teror Polri dengan Dai dan Khatib untuk mencegah intoleransi dan radikalisme di Magetan, Kamis (24/8/2022)

Magetan (beritajatim.com) – Banyaknya mantan narapidana kasus teroris di wilayah Jawa Timur khususnya di wilayah Magetan jadi atensi Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri. Hal itu disampaikan oleh Kanit 1 Kontra Ideologi Dit Pencegahan Densus 88 Mabes Polri AKBP Moh. Dofir saat bersilaturahmi dengan 100 orsng dai dan khatib di Gedung Korpri Magetan Jawa Timur, Kamis (25/8/2022)

Dofir menyebut pihaknya sudah melakukan sejumlah riset dan ditemukan bahwa ada 47 masjid di seluruh Indonesia yang terindikasi radikal. Sehingga, pihaknya melakukan roadshow silaturahmi pada para dai dan khatib agar bisa menyampaikan sesuatu yang sifatnya mendamaikan bukan menjelekkan kelompok atau golongan lain atau bahkan mengkafirkan.

“Pencegahan ini ini dilaksanakan agar dai dan khatib bisa mencegah paham radikalisme. Mayoritas mereka ambil materi dari media sosial yang tidak disaring dulu. Nah, di sini kami menekankan agar mereka ini memberikan ceramah yang sifatnya mendamaikan. Kami juga tegaskan agar masing-masing organisasi masyarakat tidak saling menjelekkan, kami ajak mereka agar menjalankan syariat dengan damai,” kata Dofir, Kamis (25/8/2022)


Pun, hal itu disambut baik oleh KH Marzuki Mustamar Ketua PWNU Jatim yang turut hadir dalam silaturahmi tersebut. Kiai Mustamar menyebut jika pihaknya menekankan pada seluruh elemen agar berdakwah yang sesuai dengan syariat, mengedepankan kemanusiaan, serta tidak melupakan NKRI.

“Jika ada kelompok yang terindikasi menyebarkan radikalisme maka kami akan ajak dialog dulu kalau bisa. Jika sudah tidak bisa, maka kami koordinasi dengan aparat. Sisanya, tugas aparat agar memetakan dan menganalisis. Kami hanya memberi masukan,” kata Mustamar.

Dia juga mengimbau masyarakat agar guyub dengan mengadakan kegiatan yang sifatnya merangkul seluruh masyarakat. Hanya dari itulah seluruh warga masyarakat bisa dikontrol. Sehingga, dalam suatu lingkungan tidak disusupi orang yang memiliki niat untuk menyebarkan intoleransi dan radikalisme.

“Kami juga pantau di media sosial, sudah ada pegiat medsos di beberapa ponpes seperti Tebuireng, Lirboyo, Tambakberas, dan Ploso untuk memantau aktivitas yang sifatnya intoleransi atau mengarah ke radikalisme,” lanjut Mustamar.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Magetan Chanif Tri Wahyudi mengungkapkan, pihaknya bersama seluruh elemen terus melakukan upaya deradikalisasi di Magetan. Tak hanya sekadar sosialisasi, tapi juga berupa pelatihan agar para eks napi teroris bisa berwirausaha. Seperti di sejumlah wilayah, pihaknya sudah melakukan pelatihan usaha laundry, pertukangan, dan alat percetakan. Modalnya, juga dibantu oleh Pemkab.

“Magetan masuk daerah merah di Jawa Timur, total ada 12 orang napiter. Selama ini jika sosialisasi kalau narasumbernya tidak tepat maka akan kembali lagi. Dari Bupati bekerja sama dengan perbankan agar bisa berusaha. Anak-anak nya juga kami berikan bantuan bahkan beasiswa sampai sekolah. Kami juga terus membangun kerjasama dengan BNPT untuk penanggulangan terorisme,” terang Chanif.

Untuk diketahui, kegiatan silaturahmi dengan dai dan khatib itu bakal digelar Densus 88 AT Polri di seluruh Indonesia. Magetan jadi titik ke 12 dari beberapa daerah sebelumnya yang sudah dikunjungi Densus seperti Palu, Madura, Bima, Lamongan. [fiq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar