Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Begini Kronologi Santri Magetan Tenggelam di Kolam Renang

Polisi saat melakukan olah tempat kejadian perkara di salah satu kolam renang umum di Kelurahan Tinap, Sukomoro, Magetan, Kamis (9/6/2022)

Magetan (beritajatim.com) – Seorang santri Ponpes Al Fatah Temboro meninggal diduga karena tenggelam saat berenang di sebuah kolam renang umum di Kelurahan Tinap, Sukomoro, Magetan, Kamis (9/6/2022) pukul 12.00 WIB.

Yakni Fa (15) yang berenang bersama tiga orang rekannya sesama santri asal Temboro. Kapolsek Sukomoro, AKP Ika Wardani membeberkan kronologi bagaimana santri yang berasal dari Ambon, Maluku itu (sebelumnya ditulis Manado, Sulawesi Utara) tenggelam hingga meninggal dunia.

Awalnya, Fa bersama tiga orang rekannya yakni MAK (14) asal Sukabumi, MR (14) dan MAGR (12) asal Kalimantan berangkat dari Desa Temboro, Karas Magetan sekitar pukul 08.00 WIB. Mereka menggunakan taksi online untuk menuju kolam renang umum di Kelurahan Tinap. Sampai di lokasi, mereka langsung menuju kolam renang dewasa tanpa menggunakan pelampung.

“Menurut keterangan saksi MAK, bahwa korban berenang berempat bersama ketiga saksi mulai pukul 08.30 WIB di salah satu kolam renang umum Kecamatan Sukomoro dengan kedalaman antara 125 Cm – 200 Cm. Sekitar pukul 11.30 WIB, MAK melihat korban lemas dan meminta tolong kepada saksi-saksi karena sudah lemas,” kata Ika, Kamis (9/6/2022)

Dia menyebut, salah satu petugas kolam renang dibantu warga yang berenang lainnya mengangkat korban ke pinggir kolam. Korban sempat diberi pertolongan dengan dibantu nafas buatan dan keluar air dari dalam mulut korban.

“Dan menurut rekannya, korban renang baru sekali berenang di kolam renang tersebut. Korban belum begitu bisa berenang dan saat berenang di kolam yang paling dalam (kolam renang dewasa),” kata Ika.

Usai pertolongan menggunakan nafas buatan gagal, pihak pengelola kolam renang membawa korban ke RSUD dr Sayidiman. Namun, nyawa Fa sudah tak tertolong.

“Menurut keterangan dari pihak RS Sayidiman Magetan, saat korban sampai instalasi gawat darurat (IGD) sudah dalam keadaan meninggal dunia diperkirakan meninggal dalam perjalanan menuju RS Sayidiman Magetan. Dari hasil diagnosa dokter bahwa korban tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, pada hidung korban mengeluarkan busa,” pungkasnya. [fiq/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar