Peristiwa

Bawa Keranda Mayat, Warga 3 Desa di Kabupaten Mojokerto Demo Galian C

Warga 3 Desa di Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto melakukan aksi di lokasi galian C di aliran Sungai Galuh, Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Ratusan warga dari tiga desa di Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto melakukan unjuk rasa di lokasi galian C di aliran Sungai Galuh, Desa Jatidukuh. Dengan membawa keranda mayat, massa menghentikan paksa aktivitas tiga alat berat dan mengusirnya dari lokasi galian.

Aksi ratusan warga ini menuntut penutupan lokasi galian C yang diduga ilegal. Mereka berasal dari Desa Jati Dukuh, Desa Ploso Bleberan dan Desa Bening, Kecamatan Gondang. Dengan membawa poster berisi tuntutan dan keranda mayat, mereka longmach dari Balai Desa Jatidukuh.

Keranda mayat tersebut sebagai simbolis adanya tambang galian C di aliran Sungai Galuh yang mengancam nyawa warga desa. Warga menduga izin tambang batu di Sungai Galuh yang saat ini dimiliki Lery Noveindusri masih bermasalah. Karena ada sangkut paut dengan pemilik tambang yang lama, yakni Lukman.

Sesampainya di lokasi galian C, ratusan warga langsung menghentikan paksa dua alat berat yang tengah beraktivitas memecah bebatuan sungai. Aksi ratusan warga ini dipicu oleh rasa khawatir, karena jika aktivitas tersebut dibiarkan tidak menutup kemungkinan adanya bencana tahun 2018 kembali terjadi.

Koordinator aksi, Sujari (42) mengatakan, warga meminta agar lokasi galian C yang berada di aliran Sungai Galuh tersebut ditutup. “Harga mati, warga meminta agar tambang ini tidak lagi beroperasi. Selain merusak lingkungan dan bisa menyebabkan bencana alam, sumur warga kering dan air keruh, sawah sulit teraliri air,” ungkapnya, Selasa (15/9/2020).

Masih kata Sujari, aktivitas galian C di aliran Sungai Galuh sudah beroperasi sejak satu bulan lalu. Sebelumnya warga juga sudah menyampaikan kepada pihak desa bahwa masyarakat tidak sepakat adanya galian ini karena Sungai Galuh menjadi sumber mata air dari beberapa desa di Kecamatan Gondang.

“Ini kan jelas mengalir di sungai, seharusnya tidak boleh di gali tapi kenapa terus di lakukan. Selain meminta penutupan lokasi tambang, warga juga meminta agar tiga alat berat yang ada di lokasi galian C di aliran Sungai Galuh dikeluarkan dari lokasi tambang,” katanya.

Pengurus Paguyuban Srikandi Peduli Lingkungan Majapahit (PSPLM), Suwartik mengatakan, terkait perizinan tambang batu di Sungai Galuh, pihaknya menduga adanya masalah dalam hal perizinan. Sebab dalam undang-undang telah diatur jika penambangan tidak boleh dilakukan di bantaran sungai.

“Kalau soal izin kan ini masih atas nama yang lama, tapi katanya dikelola olah orang lain dan tambang di sini juga pernah berhenti karena ada masalah. Ini kok kembali beroperasi. Warga minta agar ditutup karena sangat meresahkan, Kecamatan Gondang bukan daerah tambang tapi daerah penyangga,” ujarnya.

Pemilik tambang, Lery Noveindusri mengatakan, proses penambangan batu di aliran Sungai Galuh sudah sesuai dengan prosedur. “Ini masyarakat hanya trauma saja adanya tambang waktu lalu. Ketika kami datang, kami tidak merusak, melainkan juga memperbaiki. Sudah ada izinnya. Saya tidak paham tentang UU. Yang jelas, ketika izin ini keluar pihak terkait kan jelas sudah ada penelitian, berarti diperbolehkan,” ujarnya.

Terkait persis izin ia mengaku kurang tahu karena bukan dirinya secara langsung yang mengurus. Izin sudah diurus pada 2018 atas nama pemilik tambang Lukman. Ia juga membenarkan bahwa lokasi tambang tersebut merupakan milik Lukman. Namun karena tidak lagi digali sehingga dibeli dua bulan lalu dengan bukti transaksi.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Mojokerto, AKP Rivaldi mengatakan, terkait aksi warga tiga desa tersebut, pihaknya melakukan pengamanan dan memediasi agar tak terjadi gejolak. “Hasil mediasi akan ada mediasi lagi dalam waktu dekat. Nantinya akan bahas itu (soal izin),” tegasnya. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar