Peristiwa

Banjir Jakarta, 62.453 Orang Mengungsi

Banjir Jabodetabek

Jakarta (beritajatim.com) – Cuaca ekstrem yang menyebabkan banjir dibeberapa wilayah Jabodetabek menimbulkan banyak kerusakan serta korban jiwa sejak Selasa (1/1/2020) lalu. Derasnya air yang memasuki permukiman dan fasilitas umum membuat sekitar 62.453 orang mengungsi di 308 titik pengungsian tersebar di 49 Kelurahan dan 34 Kecamatan Provinsi DKI Jakarta.

Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan, walaupun banyak yang telah mengungsi, tidak sedikit juga warga yang tetap memilih tinggal dan bertahan di rumah mereka untuk menjaga harta benda serta rumah masing-masing. Namun ketika memilih untuk bertahan di rumah, kebutuhan makanan, minuman, air bersih serta pakaian menjadi terbatas.

Doni pun menghimbau bagi masyarakat yang berada di tempat relatif rendah atau dulu pernah menjadi kasawan penimbunan harus terus diwaspadai karena air akan kembali mencari tempat semula. “Untuk yang tinggal dekat daerah aliran sungai diusahakan jangan ada di rumah dan mengikuti arahan tim evakuasi untuk mengungsi di posko yang telah tersedia,” kata Doni dalam pernyataan tertulisnya yang diterima, Jumat (3/1/2020).

Doni juga berharap ketegasan para pemimpin daerah dalam mengingatkan masyarakat untuk mengungsi, melihat prediksi cuaca ekstrem yang masih akan terus terjadi hingga pertengahan Februari 2020. “Sangat diharapakan ketegasan para pemimpin daerah untuk mengingatkan masyarakat. Harta penting tetapi nyawa lebih penting,” ujar Doni.

Dia mencontohkan pengalaman di Konawe Utara, Bupati dan Kepala Dinas, Camat serta Kepala Desa memaksa penduduknya untuk evakuasi dan mengungsi sementara sehingga ketika air hujan dan air bah datang, rumah mereka hanyut terbawa arus namun korban tidak ada.

Tidak hanya pemimpin daerah, Doni juga menegaskan bahwa merupakan tugas media sebagai salah satu komponen Pentahelix untuk terus mengingatkan masyarakat melalui pemberitaan, termasuk mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan analisis BMKG yang memprediksi tanggal 5 – 10 Januari 2020 akan masuk aliran udara basah dari arah Samudera Hindia sebelah barat pulau Sumatera disepanjang ekuator yang berdampak meningkatnya intensitas curah hujan menjadi lebih ekstrem, sehingga masih akan berpotensi hujan ekstrem di wilayah Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi sampai Lampung, termasuk Jawa, tentunya Jabodetabek.

Kemudian aliran masih berjalan pada tanggal 10-15 Januari 2020 akan bergerak ke Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Tenggara. Fenomena ini dapat meningkatkan kembali intensitas curah hujan dan merupakan siklus, yang diprediksi terjadi lagi di akhir Januari sampai awal Februari (jangka waktu sekitar 3-5 hari) dan akan terulang lagi pada pertengahan Februari. “Siklus ini perlu diantisipasi sejak dini dan dipersiapkan mitigasinya,” ungkap Dwikorita. (hen/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar