Peristiwa

Bahaya, Jalan Antar Desa di Jetis Mojokerto Ditutup Sementara

Danramil 0815/07 Jetis Kapten Kav Rohyadi yang meninjau penghubung antar desa di Desa Mojolebak, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto yang putus.

Mojokerto (beritajatim.com) – Jalan penghubung antara Desa Mojolebak dan Desa Jetis di Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ditutup sementara lantaran terputus. Akibatnya warga harus memutar sejauh 1 KM sejak jalan penghubung antar desa tersebut ambles dan terputus tiga minggu lalu.

Danramil 0815/07 Jetis Kapten Kav Rohyadi mengatakan, jalan pengubung antar desa di Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto putus sejak tanggal 22 Januari 2021 lalu. “Akibat intensitas hujan yang sangat tinggi dari desa yang lain, airnya mengalir ke sini,” ungkapnya, Sabtu (13/2/2021).

Masih kata Danramil, hujan yang terjadi di sejumlah wilayah di Kecamatan Jetis terjadi bersamaan sehingga air mengalir ke saluran air yang ada di bawah jembatan penghubung Desa Mojolebak dan Desa Jetis. Sehingga saluran air yang tidak kuat menahan deras arus air hujan mengakibatkan saluran air jebol.

“Jebol mulai dari plengsengan sampai saluran air. Pihak terkait mulai dari desa, kecamatan, BPBD, PUPR, Koramil dan Polsek sudah melakukan rapat koordinasi untuk ditindaklanjuti sampai ke atas. Kita menunggu realisasinya ke depan karena prosedur sudah kita lalui, desa ke kecamatan sampai dinas terkait, sudah kita lakukan,” katanya.

Namun kapan akan dilakukan perbaikan, pihaknya tidak tahu. Pihak desa dan dinas terkait berencana akan membuat jembatan agar kendaraan roda dua bisa melintas, namun hal tersebut dinilai masih cukup rawan dan berbahaya. Lantaran jalan yang ambles dan terputus bersama saluran air yang ada di bawahnya cukup dalam.

Danramil 0815/07 Jetis Kapten Kav Rohyadi yang meninjau penghubung antar desa di Desa Mojolebak, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto yang putus.

“Yang jelas sudah ada usaha untuk melakukan alternatif yakni membuat jembatan sementara untuk sepeda motor agar bisa melintas, namun hal tersebut agak rawan dan berbahaya. Sehingga langkah yang diambil desa dan dinas terkait yakni dengan memberikan batas atau rambu dan pagar agar tidak ada yang lalu-lalang di sekitar lokasi,” ujarnya.

Terutama pejalan kali dan kendaraan roda dua milik warga sehingga untuk sementara jalan penghubung antara Desa Mojolebak dan Desa Jetis tersebut ditutup total. Karena saat malam hari akan berbahaya, lanjut Danramil, mengingat di sekitar lokasi tidak ada penerangan jalan. Sehingga untuk mengantisipasi amblesnya jalan lebih luas, jalan untuk sementara ditutup total.

“Kita kasih bambu dengan harapan tidak ada yang menerobos. Kalau sampai ada yang menerobos apalagi malam hari, sangat berbahaya. Ini terjadi karena intensitas hujan yang sangat tinggi jadi plengsengan yang ada di Sungai Marmoyo tidak bisa menahan debit air. Akhirnya menerjang ke plengsengan sehingga terjadilah abrasi atau longsor,” tuturnya.

Menurutnya, pipa besi yang ada sudah tidak berfungsi namun yang saluran air yang berfungsi berupa gorong-gorong yang ada di bawah jalan. Gorong-gorong tersebut merupakan tempat pembuangan air dari berbagai desa yang ada di sekitar lokasi. Jika terjadi hujan maka arus air yang mengalir ke gorong-gorong tersebut cukup deras.

“Sehingga saat hujan tidak kuat menampung, kekuatan alam tidak bisa kita bendung. Untuk sementara warga tidak bisa melintas di sini sehingga harus memutar, ada jalan lain tapi agak jauh sedikit. Biasanya dari sini bisa langsung ke Desa Jetis dan sebagainya tapi saat ini harus melalui desa lain,” jelasnya. [tin/ted]



Apa Reaksi Anda?

Komentar