Peristiwa

Bacokan Bermotif Asmara, Ini Kata Kapolres Probolinggo

Probolinggo (beritajatim.com) – Kasus kekerasan motif asmara di Probolinggo menjadi sorotan khusus jajaran Polres Probolinggo Kota. Korps baju cokelat ini berupaya melakukan pencegahan atas kasus menojol yang bertengger diperingkat ke tiga setelah curanmor dan narkoba tersebut.

Pucuk pimpinan polres setempat AKBP Ambariadi Wijaya, kepada beritajatim.com  mengungkapkan, budaya “bacokan” berlatar belakang asmara memang identik dengan daerah pendalungan. Terutama etnis dan penduduk kawasan pesisir.

Namun demikian, kata dia, edukasi agar masyarakat memahami konsekwensi hukum jika menyelesaikan persoalan dengan cara kekerasan, harus terus disampaikan. “Bacokan tidak menyelesaikan masalah sama sekali.

Kalaupun ada persoalan perselingkuhan,  masyarakat bisa menggunakan perangkat hukum yang ada,” terang Ambar. “Laporkan saja kepada polisi. Nanti polisi yang akan menyelesaikan persoalannya,” lanjut pria kelahiran Bumi Blambangan, Rabu (19/02/2020).

Tak hanya dampak hukum. Dari sekian peristiwa bacokan berlatar belakang asmara, dipastikan juga menyisakan dampak psikologis. Terutama bagi anak-anak dan keluarga baik dari pelaku maupun korban pembacokan.

“Bagi pelaku sendiri pasti menjalani hukuman bertahun-tahun. Sementara anak-anak mereka akan mengalami guncangan psikis ditinggal ayah yang dipenjara dan akhirnya kan juga menjadi korban,” kata Ambar.

Edukasi tentang dampak buruk kasus bacokan bermotif asamara ini, lanjut kapolres, akan digalakkan melalui polsek-polsek di wilayah hukumnya. “Memang tidak mudah merubah pola fikir masyarakat. Tapi paling tidak diawal-awal ada ilmu pengetahuan yang bisa tersampaikan kepada masyarakat. Bahwa kekerasan hingga membunuh selain dilarang hukum positif juga dilarang hukum agama,” papar dia.

Sekedar diketahui, kasus bacokan motif asmara terbaru,  terjadi Selasa (18/02/2020)  kemarin. Aksi itu berlangsung sekitar pukul 16.15. Wib di depan PT Tjiwulan, JL. Anggrek, Kelurahan Pilang, Kota Probolinggo.

Korban bernama Andriyanto, (35), Warga Dusun Kramat, Desa Ambulu, Kacamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, ini dibacok saat baru keluar dari tempatnya bekerja. Karena lukanya serius, harus mendapat perawatan intensif di RSUD dr. Mohammad Seleh, kota setempat.

Pelaku dikenali bernama Solehudin (29), warga Kelurahan Ketapang, Kota Probolinggo, berhasil ditangkap sejam kemudian di kawasan taman maramis. Sekitar 3 KM dari lokasi kejadian.

Pekerja toko bangunan itu mengaku dendam terhadap korban karena setahun ini menyelingkuhi istrinya. “Saya lihat sendiri dia (korban red.) membonceng istri saya menuju sebuah kos-kosan,” katanya saat dirilis Polres Probolinggo Kota.

Setelah berhasil membacok korbannya di bagian perut dan pinggang, Solehudin, membuang clurit dan jaket yang ia pakai di sungai dekat lokasi kajadian. “Ya ya di sungai, saya buang jaket berlumur darah dan sempat cuci tangan. Kalau clurit saya lempar begitu saja di bawah kolong truk yang ada disekitar situ pokoknya. Saya puas namun menyesal,” keluh pria beranak satu usia 7 tahun itu.

Pelaku sendiri dan Endang (istrinya red.) diketahui sudah 10 tahun membangun rumah tangga. Namun setahun terakhir sering cekcok dan akhirnya pisah ranjang, karena kehadiran orang ke tiga. “Setahun rumah tangga saya retak gara-gara kasus selingkuh. Ya mau bagaimana lagi. Saya jengkel mas,” tutupnya kepada beritajatim.com

Akibat perbuatannya, pelaku diancam Pasal 351 tentang penganiayaan dengan hukuman 7 tahun penjara. “Tinggal kita lihat. Ringan atau berat kasusnya. Karena memang korbannya masih dalam keadaan kritis,” terang Kapolres Probolinggo Kota AKBP. Ambariadi Wijaya. (eko/ted)





Apa Reaksi Anda?

Komentar