Peristiwa

ASN Pemkot Surabaya yang Rasis Ini Divonis 5 Bulan Penjara

Surabaya (beritajatim.com) – Majelis hakim yang diketuai Yohannes Hehamony menjatuhkan pidana penjara selama lima bulan pada Syamsul Arifin, Rabu (30/1/2020). Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Surabaya ini dinilai terbukti melakukan tindakan rasisme saat kerusuhan di Asrama Mahasiswa Papua (AMP) Surabaya pada Jum’at (16/8/2019) lalu.

“Perbuatan terdakwa terbukti melanggar dakwaan ke satu yakni pasal 16 UU RI Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis,” kata hakim dalam putusannya.

Selain itu, hakim juga mempertimbangan hal yang meringankan dan yang memberatkan bagi diri terdakwa Syamsul Arifin.

Hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa telah melukai masyarakat Papua khususnya mahasiswa yang berada di Asrama Mahasiswa di Jalan Kalasan Surabaya. Sedangkan sikap terdakwa yang berterus terang, mengakui perbuatannya dan menyesali perbuatannya menjadi alasan yang meringankan dalam tuntutan JPU.

“Menjatuhkan pidana penjara selama lima bulan,” ujar hakim.

Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa yang sebelnya menuntut pidana penjara selama delapan bulan.

Diketahui, selain terdakwa Syamsul Arifin, kasus ini juga menyeret dua terdakwa lainnya yakni Tri Susanti alias Mak Susi, mantan anggota ormas FKPPI dan Andria Ardiansyah, seorang youtuber asal Kebumen, Jawa Tengah.

Dalam kasus ini, Mak Susi diduga menyebar berita bohong atau hoaks melalui sarana elektronik yakni WhatsApp terkait perusakan bendera merah putih di Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan Surabaya pada Jum’at (16/8/2019) lalu.

Sedangkan terdakwa Andria Ardiansyah diduga bersalah karena telah menggugah insiden kerusuhan di akun YouTube tanpa melihat fakta yang sebenarnya. [uci/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar