Peristiwa

Arogan Pukul Mudin Karena Kepergok ‘Main’ Dana BLT, Warga Sebani Tuntut Kasi Perencanaan Dipecat

Sidoarjo (beritajatim.com) – Ratusan warga Desa Sebani Kecamatan Tarik menggeruduk kantor desa setempat menuntut mundur Nanang Sutarto, selaku Kasi Perencanaan, terkait pelanggaran etik dan arogansi yang telah dilakukan.

Nanang Sutarto, Kasi Perencanaan Desa Sebani diduga telah melakukan penganiayaan terhadap Achmad Ajib, Kaur Kesra karena permasalahan daftar penerima BLT bagi warga terdampak Covid-19.

Tohirin, salah satu perwakilan warga mengatakan, tindakan yang telah dilakukan oleh Bayan Nanang tersebut sudah melanggar etika dan aturan selaku perangkat desa. “Warga menyepakati untuk meminta yang bersangkutan berhenti atau diberhentikan dari jabatannya,” katanya, Senin (8/6/2020).

Menurutnya, Bayan Nanang telah banyak merugikan warga desa atas pengelolaan Pemdes Sebani, salah satunya dengan seenaknya mencantumkan nama keluarga sebagai penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa, serta sikap arogansi yang pernah dilakukan terhadap Kaur Kesra.

“Bagaimana mungkin perangkat desa seperti itu tetap memaksa menjabat, kalau semua elemen desa seperti BPD, RT, RW dan seluruh warga tidak menghendakinya, lebih baik mengundurkan diri,” anjurnya.

Beberapa perwakilan warga yang melakukan perundingan dengan Pemdes Sebani dan disaksikan pihak Forkopimka Tarik akhirnya menyepakati memberhentikan Bayan Nanang dari jabatannya. Selanjutnya SK Pemberhentian akan disampaikan ke pihak kecamatan.

Senadi Harjo, tokoh masyarakat setempat berharap kepada instansi terkait dalam hal ini Pj Kades Sebani, pihak Kecamatan Tarik, maupun di tingkat Kabupaten Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa harus bertindak tegas.

“Kewibawaan Pemdes Sebani tercoreng akibat ulah satu orang yang berbuat arogan. Sikap dari pemerintah harus tegas menindak oknum ini, agar tidak melebar kemana-mana. Tugas fungsi aparatur desa memberi contoh yang baik kepada masyarakat desa,” tuturnya.

Masih kata Senadi, kasus pemukulan yang terjadi akibat ada perangkat desa yang ‘bermain’ dalam hal BLT DD dampak Covid-19, dikarenakan moral sudah tidak punya rasa malu. (isa/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar