Peristiwa

Annisa Pohan dan Polemik Jalur Sepeda, Demokrat: Ada yang Coba Memancing di Air Keruh

Logo Partai Demokrat

Jakarta (beritajatim.com) – Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menilai ada pihak-pihak yang coba memancing di air keruh menghadapkan Annisa Pohan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Hal ini menyusul pernyataan Annisa di media sosial yang spontan bertanya saat mendengar ada usulan untuk membongkar jalur sepeda di Jakarta.

Menurut Herzaky, dalam pernyataan Annisa sama sekali tidak menyebut siapapun. Lagipula ungkapan tersebut semata-mata karena selama ini Aniisa juga gemar bersepeda, terutama di jalur beraspal. Hampir pada setiap kesempatan di berbagai tempat, Annisa bersepeda memanfaatkan jalur sepeda yang disediakan pemerintah-pemerintah daerah, seperti yang ia lakukan di Bandung.

Herzaky menilai, ungkapan mbak Annisa adalah ungkapan yang wajar dari seorang warga negara yang gemar bersepeda. Ada banyak penggemar bersepeda lainnya yang juga protes.

“Tapi tidak ada menyentil siapapun. Lagipula konteks pernyataan Kapolri adalah hendak mengkaji dan mengevalusi, serta mencari formulasi yang pas untuk para pengguna sepeda, termasuk dengan melakukan studi banding ke luar negeri. Tidak ada kata bongkar,” ujarnya, Sabtu (19/6/2021).

Herzaky menambahkan, sebagai Ketua Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI), Bapak Kapolri pasti akan mencari jalan keluar yang bijaksana, mengingat animo yang tinggi dari masyarakat untuk bersepeda.

“Saya kira ini bagus untuk perkembangan olahraga sepeda dikemudian hari, dan sejalan dengan tren gaya hidup sehat di berbagai negara,” katanya.

Diketahui, Isu pembongkaran jalur sepeda di jalan-jalan utama Ibukota mengemuka setelah dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Kapolri (16/6), Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni dari Fraksi Partai Nasdem meminta Kapolri membongkar jalur sepeda yang dibangun Pemda DKI dengan alasan menciptakan diskriminasi antar pengguna sepeda yang berbeda.

“Mohon kiranya Pak Kapolri dengan jajarannya, terutama ada Korlantas di sini, untuk menyikapi jalur permanen dikaji ulang, bila perlu dibongkar dan semua pelaku jalan bisa menggunakan jalan tersebut. Bilamana ada risiko ditanggung masing-masing di jalan yang ada di Sudirman-Thamrin,” ujar Sahroni.

Usulan pembongkaran sepeda oleh politisi Nasdem ini mengundang kritik dari para pemangku kepentingan transportasi. Djoko Setijowarno dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menolak usulan ini dan berpendapat,

“Dengan jalur sepeda yang terlindungi, akan menjamin keselamatan pesepeda,” ujarnya.

Sementara itu, pakar transportasi Darmaningtyas mengungkapkan selama ini pesepeda dan pejalan kaki di Jakarta terpinggirkan sebagai pengguna jalan.

“Jakarta memerlukan jalur sepeda kalau mau menuju ke kota layak huni. Yang harus dikurangi untuk kota Jakarta adalah jalur kendaraan bermotor pribadi baik roda dua maupun roda empat,” kata Darmaningtyas. [hen/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar