Peristiwa

Anak Coba Bunuh Ibu di Mojokerto, Polisi Tunggu Hasil Otopsi dan Rekam Medis

Korban Muripah (65) saat dipindahkan ke ruang perawatan RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Sebelum dimakamkan ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Kuripan RT 3 RW 04, Desa Jumeneng, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, jenazah korban percobaan pembunuhan anak sendiri, Muripah (65) dilakukan otopsi di RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong Kabupaten Pasuruan. Ini dilakukan untuk mengetahui penyebab korban meninggal.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto AKP Rifaldhy Hangga Putra mengatakan, korban meninggal saat menjalani perawatan di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. “Korban mengalami luka parah pada bagian pipi kanan, leher kanan, dan leher kiri, serta luka di telunjuk kiri akibat dibacok anaknya,” ungkapnya, Jumat (2/10/2020).

Untuk mengungkap penyebab kematian ibu tiga anak ini, pihaknya membawa ke RS Bhayangkara Pusdik untuk dilakukan otopsi. Otopsi tersebut dilakukan sebagai bukti autentik penyidik untuk menyimpulkan meninggalnya korban. Yakni terkait apakah korban meninggal karena penyakit bawaan atau akibat penganiyaan yang dilakukan anaknya.

“Kami masih menunggu keterangan resmi dari dokter forensik serta meminta keterangan dokter yang menangani korban di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto setelah di rujuk dari RS Sido Waras Bangsal. Ini untuk mengetahui penyebab korban meninggal, karena sakit bawaan atau akibat penganiayaan anaknya,” katanya.

Masih kata Kasat, jika rekam medis dan hasil autopsi dipastikan korban meninggal akibat dianiaya anak kandungnya, penyidik akan mengubah jeratan pasal pada tersangka lantaran status korban meninggal dari sebelumnya mengalami luka berat. Yakni, pasal 44 ayat 3 UU RI Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT).

“Maka ancaman lebih berat, maksimal 15 tahun penjara. Tapi jika meninggalnya akibat penyakit bawaan, yakni pasal 338 KUHP juncto pasal 53 ayat 1 KUHP terkait Percobaan Pembunuhan dan pasal 44 ayat 2 UU RI Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, ancaman maksimal 10 tahun penjara. enerapan pasal ini tergantung dari hasil keterangan dokter forensik dan rekam medis rumah sakit,” tegasnya.

Kasat menambahkan, sementara satu korban percobaan pembunuhan lainnya yakni suami korban, Yasin (70) masih menjalani perawatan intensif di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo Kota Mojokerto. Korban mengalami luka robek di pipi kiri sekitar 7 sentimeter, luka robek di leher sekitar 10 sentimeter dan dua luka robek di dada. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar