Peristiwa

Anak-anak Rantau Melepas Rindu Lewat Mudik Virtual

Seorang warga sedang melakukan video call untuk bersilatuirahmi dengan temannya temannya di tanah rantau dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1442 H

Jombang (beritajatim.com) – Tangan kanan Suherman atau Jiman (45) memegang telepon pintar. Sedangkan tangan kirinya menggapit rokok. Lewat video call (panggilan video), dia sibuk berbicara dengan orang yang muncul di layar telepon tersebut, Sabtu (15/5/2021) malam.

Bukan hanya satu orang, tapi dari layar smartphone tersebut muncul beberapa orang. Mereka berasal dari berbagai wilayah, bahkan hingga luar pulau. Orang-orang seusia tersebut berbicara panjang lebar. Tentang pekerjaan, tentang masa remaja, hingga tentang dua kali lebaran yang tidak bisa mudik.

Seiring dengan itu, mereka kadang tertawa berderai. Humor-humor segar muncul dalam obrolan melalui video call tersebut. Itulah cara anak-anak rantau yang terpisah jarak dan waktu untuk melepas rindu. Anak-anak rantau yang tidak bisa menikmati Hari Raya Idulfitri di tanah kelahiran karena terhadang pandemi.

Dari layar tipis itu pula gambar Mashudi (45) muncul. Dia menanyakan kabar tentang kampung halaman kepada Suherman yang merupakan teman sepermainan saat masih di desa. Menanyakan kabar keluarga, menanyakan kabar tentang desa.

Mashudi adalah warga kelahiran Dusun Kemendung, Desa Mojokambang, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang. Namun sudah belasan tahun merantau ke Sampit Kalimantan Tengah. Dia bersama istri dan dua anaknya tingal di tanah Borneo tersebut.

Biasanya, dalam kondisi normal, dia bersama keluarganya mudik ke kampung halaman. Bagi pria yang akrab disapa Klewer ini, mudik adalah cara menunjukkan kasih sayang kepada keluarga di kampung halaman. Sungkem pada orangtua dan bersilaturahmi dengan keluarga.

Namun sudah tiga lebaran ini, Klewer harus memupus harapannya untuk terbang ke kampung halaman. Tahun pertama atau 2019, dia tidak mudik karena masih punya anak di bawah tiga tahun. Lebaran kedua dan ketiga atau 2020 dan 2021, mudik yang ia rencanakan terhadang pandemi Covid-19.

Bahkan, pemerintah melalui Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengeluarkan larangan mudik Lebaran 2021. “Sudah tiga kali lebaran ini tidak pulang. Jadinya hanya silaturahmi digital (video call). Hari pertama lebaran, saya video call ke orangtua dan saudara. Memohon maaf atas segala khilaf,” kata Klewer melalui video call.

Video call yang dilakukan anak-anak desa itu semakin melebar. Dari dua orang menjadi beberapa orang. Suasana mengobati rindu kampung halaman semakin gayeng. Dari layar HP (Handphone) tersebut juga muncul Kurniawan Saputro atau Cimbut. Pria kelahiran Dusun Kemendung ini belasan tahun merantau ke Jakarta.

Silaturahmi lebaran melalui video call

Cimbut tinggal di kawasan Tangerang. Memiliki satu istri dan dua anak. Setali tiga uang dengan Klewer yang merupakan teman sepermainannya di kampung, dia tak bisa mudik. Bedanya Cimbut tak bisa mudik dua kali lebaran. Semuanya karena pandemi.

Sebagai gantinya, lewat video call itu pula Cimbut melepas dahaga kerinduan terhadap kampung halaman dan keluarga tercinta. Padahal sebelum pandemi, lulusan SMA Bandar Kedungmulyo tahun 1996 ini selalu mudik ke kampung setiap Idulfitri.

Bagi Cimbut, mudik memang cara menunjukkan kasih sayang kepada keluarga di kampung halaman. Namun, cara ini bukanlah satu-satunya di tengah pandemi. “Apalagi di jalan banyak penyekatan. Moda transportasi juga libur. Jadi mudiknya dilakukan melalui virtual,” kata Cimbut.

Selain itu, lanjutnya, menunda mudik adalah cara bijaksana menunjukkan kasih sayang adalah dengan melindungi keluarga, khususnya yang berusia lanjut dari risiko tertular Covid-19. “Semoga kita semua sehat-sehat,” sambungnya.

Obrolan anak-anak desa itu semakin berwarna. Anak-anak desa yang mengikuti video call bergerombol di musala dusun setempat, sedang dari layar telepon jumlah peserta juga bertambah banyak. Dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Dari Klewer di Sampit, berpindah ke Cimbut di DKI Jakarta, hingga ke Joko Purnomo yang berada di pulau Bali. Minimal dengan mudik virtual tersebut kerinduan terhadap keluarga dan kampung halaman mulai terkikis. Meski mereka menyadari kehangatan bertatap muka secara langsung tentu berbeda dengan melalui jagat maya.

Imbaun Larangan Mudik

Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab saat memberikan imbauan terkait salat Idul Fitri, Selasa (11/5/2021)

Sebelumnya, Bupati Jombang Hj. Mundjidah Wahab memberikan imbauan tentang larang mudik di Hari Hara Idulfitri 1442 H. Hal itu sesuai dengan anjuran pemerintah pusat, serta Surat Edaran Mendagri terkait larangan mudik mulai tanggal 6-17 Mei 2021.

Larangan Mudik 2021 diatur dalam Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 dari Satgas Penanganan Covid-19 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri tahun 1442 H dan Upaya Pengendalian Penyebaran Covid-19 selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah.

Sementara pengetatan bepergian tertuang dalam Addendum Surat Edaran Satuan Tugas (SE Satgas) Penanganan Covid-19 Nomor 13 Tahun 2021. “Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 lebih banyak lagi setelah Idul Fitri, seperti yang terjadi di India. Tsunami Covid-19 di India timbul setelah penyelenggaraan Festival Agama di Sungai Gangga,” ujar Bupati Jombang pada sebuah kesempatan. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar