Peristiwa

Aktivis Lingkungan Demo Konjen Amerika di Surabaya

Surabaya (beritajatim.com) — Aktivis lingkungan melakukan aksi tolak sampah impor, Jumat (12/7/2019). Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap negara Amerika Serikat yang diduga telah sengaja melakukan tindak kejahatan, yakni membuang sampahnya ke Indonesia.

Aksi yang dilaksanakan di depan Gedung Konsulat Jenderal Amerika Serikat Surabaya itu, melibatkan beberapa aktivis. Salah satunya Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ekoton.

“Saat ini Indonesia menjadi penyumbang sampah terbesar kedua didunia setelah China, dan sebagian sampah itu berasal dari Amerika. Ribuan ton sampah diselundupkan, dan terbanyak ada di Jawa Timur,”

Seperti yang diketahui, Amerika telah mengimpor sampahnya ke negara-negara Asia seperti Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Sampah yang diimpor berupa plastik, kertas, dan juga sampah B3, yakni popok bayi, botol bekas, pakaian dalam, dll.

Pihaknya menghimbau agar Amerika menghentikan tindakan tersebut, karena dinilai telah menciderai hukum yang ada, UU Nomor 18 Tahun 2008 dan UU Nomor 32 Tahun 2009.

“Program Adipura dari pemerintah pun sia-sia, ternodai oleh sampai impor. Ikan-ikan dibrantas, 80% terkandung plastik didalam perutnya. Ini seakan-akan membunuh Indonesia secara perlahan.” tandasnya.

Sebelumnya, Malaysia sudah mengembalikan sampah impor ke Amerika sebanyak 3.000 kontainer. Sedangkan Indonesia baru 5 kontainer dari total ribuan ton yang ada. Hal ini tentunya sangat miris dan sangat dikecam oleh masyarakat.

Ada beberapa titik utama pembuangan sampah impor di Jawa Timur, yakni Mojokerto, Malang, Kediri, Nganjuk, Gresik, Sidoarjo dan Surabaya. Pihaknya berharap dengan adanya aksi ini, Amerika berhenti mengimpor sampah dan menyampaikan permintaan maaf.

“Indonesia bukan tempat sampah. Ini melanggar etika bertetangga, Amerika tidak boleh egois dan acuh terhadap lingkungan negara lain. Amerika harus minta maaf.” tutupnya.

Setidaknya sekitar 60% sampah dapat didaur ulang, namun 40% nya tidak bisa dan menjadi limbah. Sehingga resiko perusakan lingkungan lebih besar. Aksi tersebut juga diwarnai dengan pengiriman surat kepada Presiden Donald Trump yang disampaikan melalui pihak Konjen. Surat yang ditulis oleh dua gadis kecil, Zade (11, dan Nina (12), berisikan tuntutan berhenti impor sampah.

“Kenapa harus kita yang merasakan dampak sampah? Harusnya mereka bisa mengurus sampahnya sendiri.” ujar Nina.

Aksi berjalan lancar, hingga pukul setengah 4 masa dibubarkan. [ddn/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar