Peristiwa

Akhirnya Hasil Lab Ungkap Penyebab Keracunan Tongkol di Jember

Jember (beritajatim.com) – Hasil uji laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan RI akhirnya mengungkap penyebab keracunan tongkol di Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat malam tahun baru.

Kepala Dinas Kesehatan Jember Dyah Kusworini mengatakan, sampel ikan yang diambil dari tempat pelelangan ikan (TPI) di Kecamatan Puger memiliki kandungan histamin kurang dari 100 part per million yakni 16,67 PPM. “Sampel yang diambil dari sisa makanan (korban keracunan) ada tujuh sampel dan semua kandungan histaminnya di atas seratus PPM (190,65 PPM),” katanya, Kamis (23/1/2020).

Dari hasil laboratorium itu, menurut Kusworini, bisa disimpulkan bahwa penyebabnya adalah kandungan histamin yang lebih tinggi dari standar. Penyebab tingginya histamin tak lepas dari proses penyiapan tongkol untuk dikonsumsi.

“Rata-rata tongkol itu kan dibelinya rata-rata siang di Puger, kemudian masih dibawa jalan-jalan. Sampai di rumah sore, membawanya tak dalam kemasan yang tepat. Hanya dibawa dalam tas kresek dan baru diolah pada malam hari untuk acara bakar-bakar malam tahun baru,” kata Kusworini.

Ini akan berbeda jika setelah dibeli langsung di Puger, ikan tongkol itu diolah secara tepat. “Itu tidak berbahaya,” kata Kusworini.

Kusworini mengatakan ikan tanpa sisik hanya bertahan dalam tiga jam di suhu ruang. Ia berpesan agar masyarakat membawa kemasan dengan es batu jika membeli ikan dan langsung mengolahnya. Keracunan ikan mencapai 410 kasus sejak 31 Desember 2019 hingga tanggal 9 Januari 2020. Laporan dari puskesmas 391 kasus, rumah sakit 8 kasus, dan klinik sebanyak 11 kasus.

Persebaran kasus terdapat di 27 kecamatan dengan 42 pusskesmas yang memberikan laporan. Terbanyak terjadi di Kecamatan Ajung dengan jumlah 36 kasus dan Puskesmas Banjarsengon dengan 30 kasus. Berdasar jenis kelamin, terbanyak dialami laki-laki, yakni 259 kasus atau 63 persen. Sedangkan pada perempuan sebanyak 151 kasus atau 37 persen. (wir/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar