Peristiwa

AJM: Ada yang Menyabotase Mixer Pelantang Suara Sebelum Kerusuhan

Jember (beritajatim.com) – Aliansi Jember Menggugat (AJM), aliansi 25 elemen organisasi mahasiswa di Kabupaten Jember, Jawa Timur, meminta maaf kepada semua pihak, atas kerusuhan yang terjadi pada aksi unjuk rasa 22 Oktober 2020.

Permintaan maaf ini disampaikan terbuka oleh Nurul Mahmuda, juru bicara AJM, dalam konferensi pers, di salah satu kafe, Senin (26/10/2020) siang. “Kami secara sadar meminta maaf kepada instansi terkait dalam hal ini jurnalis, Pemerintah Kabupaten Jember, DPRD Jember, instansi kepolisian RI, dan terutama masyarakat Jember, atas tindakan – tindakan di luar koridor rencana aksi, sehingga menyebabkan kerugian banyak pihak,” katanya.

Nurul mengatakan, AJM senantiasa berkomitmen melakukan demonstrasi secara damai dan tidak menghendaki kericuhan pada saat aksi berlangsung. Apalagi penolakan terhadap Omnibus Law sudah konsisten dilakukan jauh-jauh hari. Aksi demonstrasi sengaja dilakukan di depan gedung DPRD Jember karena gedung parlemen tersebut adalah simbol tempat musyawarah.

AJM menghindari perilaku aksi yang berujung pada perusakan dan lain sebagainya, dan tidak mengimbau massa aksi untuk membawa batu, petasan, maupun barang yang membahayakan orang lain. AJM juga mempunyai identitas yang jelas berupa kain berwarna putih sebagai penanda bahwa itu demonstran yang tergabung dalam aksi.

“Namun sangat disayangkan, pada saat kami melakukan demonstrasi, terjadi hal-hal di luar koordinasi dan keinginan kami, yakni bentrokan, anarkisme, kericuhan, dan lain sebagainya. Itu di luar koordinasi dan konsolidasi kami. Itu sebuah pengkhianatan bagi kami,” kata Nurul.

Berdasarkan penyelidikan AJM, menurut Nurul, ada sejumlah celah yang menyebabkan kerusuhan terjadi. “Salah satunya adalah sabotase atau penyiraman terhadap mixer pengendali sound system kami pada sekitar pukul 16.00, hampir mendekati setengah lima,” katanya.

Akibat siraman tersebut, sistem pelantang suara di mobil komando pun rusak. “Hal tersebut memancing amarah,” kata Nurul.

Mereka sudah berupaya memperbaiki mixer sistem pelantang suara, namun gagal. “Kami menyepakati untuk memilih sound system dimatikan karena khawatir terjadi kerusakan lebih fatal,” kata Nurul.

Para koordinator lapangan berupaya meredam kemarahan peserta aksi. Namun ada sejumlah oknum yang berupaya memprovokasi. “Kami sebut oknum karena kami belum bisa mengidentifikasi siapa mereka dan mereka tidak menggunakan atribut atau penanda pita putih seperti yang sudah kami konsolidasikan,” kata Nurul.

Para oknum ini membuat onar, membuat keributan, serta menyuruh melakukan tindakan destruktif. “Ini sangat fatal,” kata Nurul.

Saat itu, para koordinator aksi AJM berusaha meredam kerusuhan. “Namun semakin memuncak, ketika ada upaya penangkapan oleh yang kami sebut oknum tadi. Kami tidak tahu dan hingga detik ini masih menginvestigasi apa motif upaya penangkapan tersebut,” kata Nurul.

Situasi saat itu pun kacau. “Terjadi miskoordinasi antara kami dan juga pihak keamanan. Yang terjadi di lapangan, upaya penangkapan ini menekan resistensi kawan-kawan, menekan emosi kawan-kawan, sehingga menimbulkan keributan baru di lapangan. Keributan baru ini (berupa) aksi dorong-dorongan dan hampir terjadi pukul-pukulan. Alhamdulillah AJM sigap menyelesaikan persoalan tersebut,” kata Nurul. Namun dia mengakui tindakan brutal oknum peserta aksi susah dikendalikan.

Akibat kerusuhan hari itu, kaca-kaca gedung DPRD Jember pecah terkena lemparan batu dari massa. Terakhir, polisi mengamankan lima orang terduga pelaku kerusuhan tersebut, dua di antaranya adalah pelajar sekolah menengah atas.

Polisi menyita palu, 40 buah batu berukuran besar dan kecil, satu buah korek api, tiga buah kelongsong petasan kembang api, satu buah tas, sarung tangan, baju, dan satu botol berisi pasir dari tangan para terduga pelaku kerusuhan. Lima orang tersebut dijerat pasal 170, 214, dan 160 KUHP. Ancaman hukuman maksimal pasal 170 adalah tujuh tahun penjara, sementara pada pasal 214 ancaman maksimalnya delapan tahun penjara.[wir/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar