Peristiwa

Air Asin di Persawahan Mojokerto Dimanfaatkan untuk Bahan Pengganti Garam

Sumber di area persawahan Dusun Brayukulon, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto yang mengeluarkan rasa asin. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Sumber air asin di area persawahan Dusun Brayukulon, Desa Brayublandong, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, dulunya dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pengganti garam. Yakni dengan cara tanah digali untuk diambil airnya.

Kepala Urusan Penerangan Desa Brayublandong, Samujiono mengatakan, tahun 1980-an sumber air asin tersebut sudah tidak dimanfaatkan lagi oleh warga setempat. “Kalau yang dulu, tahun 80-an dimanfaatkan garam untuk pembuatan puli,” ungkapnya, Selasa (7/1/2020).

Masih kata Samujiono, karena saat ini ada boraks sehingga air asin di sumber tersebut tidak lagi dimanfaatkan masyarakat. Air asin di sumber tersebut akan dimanfaatkan masyarakat, lanjut Samujiono, jika harga garam mahal. Masyarakat juga memanfaatkan untuk minum sapi.

Kepala Dusun (Kadus) Brayu Kulon, Edy Purwanto membenarkan bahwa dulunya sumber air asin tersebut dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan pengganti garam. “Masyatakat menggali tanah di sumber asin setelah itu airnya dibawa menggunakan wadah bambu dan dibawa ke rumah untuk diolah,” katanya.

Masih kata Edy, air dari sumber tersebut disaring dan direbus sampai mendidih lalu didiamkan. Setelah itu, dikemas menggunakan botol kaca dipakai untuk obat krupuk puli (krupuk nasi). Bahkan, air olahan sumber air asin tersebut dijual masyarakat dengan cara berjalan kaki sampai Sidoarjo.

“Sepengetahuan saya setelah banyak garam dapur sudah berhenti berjualan itu sekitar tahun 1970, kalau sekarang sudah tidak ada lagi. Ada juga masyarakat yang masih manfaatkan untuk bahan campuran pakan ternak. Kebanyakan ya masyarakat di sekitar sumber air asin,” ujarnya. [tin/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar