Peristiwa

Ahmad Arifin, Berenang ke Danau Kawah Ijen Evakuasi Rekan Sejawat

Banyuwangi (beritajatim.com) – Aksi nekat dan hebat dilakukan oleh Ahmad Arifin warga Kecamatan Licin, Banyuwangi. Betapa tidak, saat orang lain enggan dan ogah justru dirinya nekat menantang maut.

Bayangkan saja, danau kawah Gunung Ijen yang memiliki tingkat paling asam di dunia itu direnangi olehnya. Bahkan, kawah yang notabene sering mengeluarkan gas beracun tak menyurutkan niatnya.

Arifin tetap saja melangkah melihat jenazah kawannya yang mengapung di tengah. Tanpa pikir panjang basa-basi lepas baju lalu terjun.

Hanya berbekal celana dalam dan seutas tali tambang, ia menceburkan diri. Mengayuh kedua tangan berenang menuju ke lokasi tujuan. Awalnya susah, karena lokasinya jauh. Mengendap dari bibir kawah yang terjal, Arifin mengaku sempat terjungkal beberapa kali.

Melihat posisi pantat jenazah Andika sang korban yang terlihat dari atas seakan melambai, memintanya untuk mendekat. Itu yang semakin menguatkan semangatnya.

Air danau kawah semakin asam, karena bercampur air matanya yang mengucur tajam. Sungguh proses evakuasi yang menyita penuh kesedihan.

“Sedikit demi sedikit, saya mengayuh tangan menuju ke tengah, saya ambil jenazah itu dengan tangan kanan saya, kemudian saya bawa berenang ke tepi,”

“Ya, saya berenang, saya ijin ke petugas kalau saya berani berenang. Awalnya dilarang karena mau menunggu alat dulu, saya bilang tidak. Ada tali diikat di pinggang saya. Saya waktu itu berani saja, gak apa-apa,” katanya saat di rumah duka, Jumat (30/5/2020).

Benar kata Arifin, lokasinya sulit. Karena memang jauh dari titik awal kejadian. Posisi jenazah tertelungkup mengambang di tengah danau.

“Lokasinya itu berada di sisi selatan Gunung si Banteng, memang daerah itu tidak ada jalurnya. Saya merambat ke tebing, lalu sekitar 25 meter itu ternyata lokasinya dalam, terpaksa saya dayung dengan badan saya diikat tali,” ungkapnya.

Setibanya di bibir danau, tangis haru seketika menggema layaknya dentuman Gunung Ijen. Air mata para rekan sejawat seolah menambah volume air danau kawah. “Dari lokasi penambangan belerang itu sekitar 150 meter, posisinya di pinggir danau cuma jangkauannya sangat sulit,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana perasaannya pertama kali melihat jenazah kawannya yang telah berubah warna itu?. Arifin tak mampu berkata, hanya sesekali menghela nafas panjang. “Saat itu, jenazah posisi tertelungkup. Kondisinya masih utuh, hanya celana dan celana dalamnya. Kalau sepatu dan jaketnya masih utuh. Jenazah korban kulitnya memutih,” ungkapnya.

Ia sangat mengenang jelas kala semasa hidup korban. Karena, telah lama menjadi teman seprofesi mengais rejeki di PT Candi Ngrimbi, tempat penampungan belerang. “Saya memang waktu itu tidak bareng, karena memang waktu bekerjanya berbeda. Berhubung saya pindah kelompok saya mengomandoi kelompok 1 bertugas mulai tanggal 1-15, dan beliau ini tanggal 15 sampai akhir bulan. Jadi PS (Pengawas Sulfur) itu ada dua kelompok,”

“Dulu sama-sama jadi penambang, tapi sekarang sudah lama tidak nambang. Kami hanya mengawasi saluran sulfur. Saya sudah 31 tahun jadi penambang belerang,” tuturnya.

Lalu, apakah kejadian letupan hebat di danau kawah gunung Ijen ini paling besar? Jawabnya tidak. “Selama saya jadi penambang, ada beberapa kali kejadian di sana. Kejadian tahun 2014 juga tinggi. Terakhir paling dahsyat adalah keluarnya gas beracun pada 2018 lalu,” ungkapnya. (rin/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar