Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Ahli Kepurbakalaan Sebut Alas Purwa Banyuwangi Purwanya Tanah Jawa

Banyuwangi (beritajatim.com) – Banyuwangi selain dikenal sebagai duplikat eksotisme Bali ternyata juga menyimpan sejarah yang cukup menarik. Dalam konferensi pers tentang Kepurbakalaan Tanah Banyuwangi, Sabtu (6/11/2021) di Mirah Hotel Banyuwangi, Bayu Ari Wibowo, S.S, Tenaga Ahli Museum dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi mengatakan bahwa kawasan paling timur dari tanah Jawa ini merupakan peradaban paling tua di pulau Jawa alias Purwanya Tanah Jawa.

Bayu mengatakan, titik awal ekspansi Austronesia di Pulau Jawa adalah daerah Alas Purwa, yakni Geneng Lewu dan Kali Baru. Karena di sana terdapat situs pemukiman dan perbengkelan dari masa Neolitikum dan Megalitikum yang merujuk pada ekspansi Austronesia. Austronesia sendiri merupakan kelompok penutur bahasa Austronesia yang merupakan cikal bakal bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

“Jadi di daerah Alas Purwa itu ditemukan situs yang berasal dari masa Austronesia (3500-1300 SM), yakni situs pemukiman dan perbengkelan dan artefak yang ada di sana merupakan artefak tertua juga menjadi basis peradaban di pulau Jawa saat ini. Maka dari itu dikenal Alas Purwa atau alas paling tua,” terang Bayu yang juga merupakan Pimpinan Redaksi Majalah Stupika Udaya tahun 2012.

Ia pun menerangkan bahwa di situs pemukiman dan perbengkelan yang ditemukan di Alas Purwa ditemukan artefak yang identik dari masa Austronesia, yakni gerabah poles merah, biliung atau kapak merah, batu asah dan makam batu.
Selain itu, di situs Geneng Lewu dan Kali Baru juga ditemukan kebudayaan bercocok tanam padi, domestifikasi atau merawat hewan, dan tradisi pelayaran yang juga merujuk pada kebudayaan di masa Austronesia.

“Sebelum menyebar ke tanah Jawa, Austronesia terlebih dahulu ke Kalimantan sehingga terdapat beberapa kemiripan yang bisa dikaji, kemudian memilih daerah Alas Purwa melalui Glenmore karena tanah yang subur dan kedekatan dengan sumber bahan baku,” papar pria kelahiran 28 April 1991 ini.

Bayu juga menjelaskan bahwa ekspansi Austronesia juga menyebabkan interaksi dengan warga lokal Alas Purwa tetapi sayangnya hingga kini tidak diketahui siapa dan merujuk kemana geneologi penduduk Alas Purwa tersebut. “Memang benar bahwa terdapat interaksi dengan penduduk asli tapi sampai saat ini belum ada kajian ilmiah terkait itu. Sehingga tidak diketahui asal usulnya,” tambahnya.

Meski Alas Purwa menjadi pusat dan titik pertama peradaban Jawa, karena bersumber dari rumpun Austronesia yang merupakan penutur cikal bakal bahasa Jawa, tetapi peradaban asli Alas Purwa dari masa tersebut telah terputus karena amigrasi dan tidak memiliki kebudayaan yang hidup hingga saat ini.

Oleh karenanya, Bayu mengatakan, saat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi menginisasi Museum Kepurbakalaan di situs Geneng Lewu dan Kali Baru sebagai sarana konservasi dan romantisme kepurwaan Banyuwangi melalui penelusuran kembali sejarah Alas Purwa sebagai Purwanya Tanah Jawa. [adg/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar