Peristiwa

Ada Retakan Baru Pasca Longsor di Tugurejo Slahung, Pengungsi Menjadi 35 Jiwa

Longsor yang terjadi di Dusun Tugunongko Desa Tugurejo Slahung beberapa waktu yang lalu.(dok.beritajatim.com)

Ponorogo (beritajatim.com) – Pasca kejadian tanah longsor yang terjadi di Dusun Tugunongko Desa Tugurejo pada 5 hari yang lalu, BPBD Ponorogo terus memantau perkembangan dari longsoran tersebut. Hasilnya, mereka menemukan retakan-retakan baru di sisi barat dan timur longsoran.

Retakan baru itu mempunyai lebar 20 centimeter, dengan panjang mencapai 150 hingga 200 meter. Dengan retakan baru yang terjadi berpotensi mengancam rumah yang berada di lereng longsoran. “Pasca longsor, kami dirikan posko pemantau di Dusun Tugunongko, juga kami siagakan anggota 24 jam,” kata Kalaksa BPBD Ponorogo Imam Basori, Selasa (10/3/2020).

Dengan adanya retakan baru tersebut, BPBD Ponorogo kata Imam juga membantu warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sehingga sampai hari Selasa siang jumlah pengungsi secara keseluruhan berjumlah 35 orang yang terdiri dari 14 KK. “Saat ini keadaan para pengungsi sehat, selalu kami pantau setiap saat,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, bencana tanah longsor terjadi di Dusun Tugunongko Desa Tugurejo Kecamatan Slahung Ponorogo. Dengan kejadian tersebut, tercatat ada 16 orang dari 6 kepala keluarga (KK) harus mengungsi meninggalkan rumah yang selama ini ditinggali. Mereka mengungsi ke rumah kerabat atau tetangga yang lebih aman.

Kepala Desa Tugurejo Siswanto mengungkapkan bahwa bencana tanah longsor terjadi pada Rabu (4/3/2020) sore kemarin sekitar pukul 5 sore. Dia menyebut jika lokasi longsor merupakan lahan milik Perhutani. Namun lokasinya sangat dekat dengan pemukiman warga. “Maka warga yang dekat dengan lokasi longsor, kami himbau untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman,” katanya.

Siswanto menyebut jika lokasi longsor sebelumnya sudah retak sedalam 2 meter. Selain itu lokasi tersebut juga pernah terjadi longsor pada tahun 2018 lalu. Namun, tidak sebesar dan separah pada saat ini. Dimungkinkan longsor akan terjadi lagi, mengingat intensitas hujan di Kecamatan sebelah selatan Ponorogo itu masih cukup tinggi. “Dulu tahun 2018 pernah longsor namun tidak separah ini,” pungkasnya.(end/kun)





Apa Reaksi Anda?

Komentar