Iklan Banner Sukun
Peristiwa

Ada Hujan Uang di Lamongan, Tradisi Udik-Udikan oleh Perantau Saat Mudik

Video dan foto tradisi Udik-udikan yang digelar di Masjid Desa Bugoharjo, Kecamatan Pucuk, Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Sejumlah warga Lamongan yang merupakan para pekerja rantau membagikan uang kepada masyarakat dari atas masjid yang berada di Desa Bugoharjo Kecamatan Pucuk Kabupaten Lamongan.

Acara bagi-bagi uang kertas bak hujan uang tersebut dilakukan oleh para pedagang pecel lele yang sukses di perantauan saat mudik. Diketahui, acara tebar uang ini adalah tradisi yang rutin dilakukan oleh perantau asal desa setempat tiap tahunnya.

Bagi para perantau, tradisi ini digelar sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang mereka peroleh. Selain itu dengan tradisi ini, para perantau Lamongan yang sukses tersebut tak lupa dengan kampung halamannya.

Sontak, tradisi yang disebut oleh warga setempat dengan nama “Udik-udikan” ini pun diserbu oleh masyarakat. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa pun tampak memadati lokasi dan berebut uang yang dibagikan dari atas masjid.

Sebagian warga yang datang juga mengabadikan tradisi unik ini dan membagikannya di akun sosial media mereka. Sebuah video pemudik sedang bagi-bagi uang kepada warga desa tengah viral di Lamongan. Sejumlah warga nampak ikut ‘udik-udikan’ uang yang dibagikan dari atas masjid tersebut.

“Iya mas, itu video yang diambil pada hari Minggu kemarin (9/5/2022), di halaman Masjid Desa Bugoharjo, Kecamatan Pucuk,” kata Nur Ali Zulfikar saat dikonfirmasi, Senin (9/5/2022).

Menurut Ali, uang dari atas atap serambi yang ditebar ke halaman masjid itu merupakan uang pecahan Rp 10 ribu, Rp 5 ribu dan Rp 2 ribu. Ia juga membenarkan, jika para warga yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa berebut uang yang jatuh dari atas serambi masjid.

Sementara itu, salah warga Desa Bugoharjo, Kecamatan Pucuk bernama Ahmad Yusuf mengatakan, tradisi bagi-bagi uang dari atas serambi masjid tersebut adalah salah satu dari rangkaian acara para pemudik asli warga Desa Bugoharjo yang tergabung dalam Persatuan Perantauan Warga Bugoharjo (PPWB) se-Nusantara.

Yusuf menambahkan, acara Udik-udikan ini merupakan wujud rasa syukur dan berbagi kepada masyarakat di desanya. “Sebenarnya udik-udikan ini salah satu dari rangkaian acara Halal bi Halal warga rantau di desa kelahiran kami,” ujar Yusuf.

Lebih lanjut, pria yang merantau ke Malang ini mengungkapkan, selain membagikan uang bagi masyarakat di desanya. Para pengusaha warung pecel lele dan sea food ini juga menggelar aksi bakti sosial lainnya, seperti menggelar sunatan massal, istighosah kubro, pengobatan gratis hingga menggelar pengajian umum dengan mendatangkan KH Anwar Zahid dari Bojonegoro.

“Kami selaku perantau menggelar udik-udikan atau bagi-bagi uang kertas kepada masyarakat di tanah kelahiran. Sebelum udik-udikan ini, kami juga membagikan sebagian rezeki kami ke warga,” ungkapnya.

Tak cukup itu, imbuh Yusuf, sebelum dilakukan dari atas atap serambi masjid, pada tahun-tahun sebelumnya udik-udikan telah dilakukan di jalan. Namun karena bergerombol, maka dialihkan dari atas atap serambi masjid.

“Kegiatan semacam ini rutin digelar setiap tahun. Tapi selama 2 tahun ini vakum karena bertepatan dengan adanya wabah virus corona. Kami ingin memberikan manfaat untuk pembangunan dan kemajuan Desa Bugoharjo. Sehingga setiap tahun kita mengadakan Halal bi Halal. Semoga masyarakat bisa terbantukan,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu anak yang ikut berebut uang udik-udikan, Faisal Hakim mengaku senang karena mendapatkan banyak uang. Faisal berkata, uang yang ia dapat dari udik-udikan ini akan ia simpan sebagai uang jajan usai lebaran.

“Senang Pak, dapat uang banyak. Nanti saya buat untuk beli jajan,” ungkap Faisal yang menyebut juga ikut menjadi peserta khitanan massal dan mendapat satu paket perlengkapan sholat dan uang saku.[riq/kun]


Apa Reaksi Anda?

Komentar