Peristiwa

Aksi Siswa-siswi SMKN 1 Trowulan Dinilai Hanya Miss Komunikasi

Mojokerto (beritajatim.com) – Aksi ratusan siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto dinilai hanya miss komunikasi saja. Pihak sekolah sudah meminta agar para siswa mengambil kartu tanda peserta ujian tanpa harus membayar tabungan hingga bulan Desember 2019.

Wakasek Bidang Kurikulum SMKN 1 Trowulan, Umi Hasanah mengatakan, jika aksi yang digelar para siswa tersebut hanya miss konsepsi dan miss komunikasi saja. “Pihak sekolah sudah menginstruksikan agar para siswa segera mengambil kartu tanpa peserta UAS di koordinator tabungan,” ungkapnya.

Ini lantaran, lanjut Umi, kartu tanda peserta UAS ada di koordinator tabungan. Menurutnya, kartu peserta ujian tersebut wajib dimiliki para siswa karena di lembar jawaban ada kolom untuk pengisian nomor kartu tanda peserta ujian. Terkait tabungan siswa, menurutnya, sebelumnya sudah dirapatkan.

“Pihak sekolah sudah terbuka, terkait tabungan sudah dirapatkan dengan wali murid dan komite. Edaran sudah diberikan terkait apa saja yang didapat dari tabungan itu nantinya. Jelas, semua sudah pas dan sudah dilaksanakan. Ada kendala, yang seharusnya di alokasi nya di pengembangan diri murid, itu tidak dibayarkan,” katanya.

Sehingga pihak sekolah terkendala di pelaksanaan. Menurutnya, wali murid sudah mengetahui terkait hal tersebut. Namun untuk nominal anggaran tidak tahu jelas karena yang menangani pihak koordinator tabungan. Untuk, pengembangan diri, Program Pendidikan Gratis Berkualitas (TisTas) dan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMKN 1 Trowulan susah digunakan sesuai juknis.

“Untuk kegiatan yang dulu ter-cover di SPP sudah tidak ada lagi, sehingga agar anak-anak bisa melakukan kegiatan pengembangan diri dikumpulkan wali murid. Bendahara yang tahu apa saja rinciannya tabungan siswa. Masalah awal ini karena para siswa diminta menyelesaikan tabungan untuk mendapatkan kartu peserta,” tuturnya.

Umi menjelaskan, untuk pagar belakang yang dituntut para siswa memang belum ada bantuan pembangunan pagar sejak sekolah tersebut berdiri. Sekitar 100 lebih siswa yang tidak memiliki kartu tanda peserta UAS tersebut rata-rata kelas 12, sehingga mereka tidak bisa ikut ujian.

“Mungkin orang tuanya tidak mampu, mereka sudah dikumpulkan agar ikut penilaian akhir semester ganjil meski belum bayar tabungan. Ujian hari ini sampai Jumat, hasil koordinasi forum untuk menunda penilaian akhir semester ganjil sampai memastikan anak-anak untuk mau ikut penilaian akhir semester ganjil,” tegasnya.

Pihak sekolah sudah mengarahkan agar kegiatan praktek industri pada pertengahan bulan Oktober 2019 agar mencari yang dekat tapi justru memilih yang jauh sehingga para siswa harus menambah. Alokasi tabungan tersebut hanya untuk ke Surabaya atau Malang tapi justru beralih ke Bali sehingga harus menambah.

“Uang tabungan itu dikelola komite. Kunjungan industri itu untuk jurusan pariwisata. Ada 27 kelas disini dengan tujuh jurusan, jurusan kerja kreatif logam, perhiasan, desain komunikasi visual, usaha kerja pariwisata, agrobisnis dan holtikultura, teknik komunikasi jaringan dan teknik pengelasan,” tegasnya.[tin/ted]

 

Apa Reaksi Anda?

Komentar