Iklan Banner Sukun
Peristiwa

22 Fakta Menarik tentang Tunggal Jati Nusantara yang Jalani Ritual Maut Payangan Jember (1)

Jember (beritajatim.com) – Ritual maut di Pantai Payangan, Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang menewaskan sebelas orang pengikut padepokan Tunggal Jati Nusantara yang dipimpin Nur Hasan, Minggu (13/2/2022), menghebohkan publik. Orang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya kelompok tersebut.

Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember menurunkan tim yang dipimpin langsung oleh sang ketua KH Abdul Haris untuk menyelidiki pemikiran dan sepak terjang kelompok ini. Ada dua orang pengikut Nur Hasan, dua orang guru Nur Hasan, seorang takmir masjid yang diwawancarai. Bahkan terakhir, MUI mendapat akses untuk bertemu Nur Hasan yang tengah ditahan kepolisian.

Berdasarkan hasil investigasi MUI Jember, ada sejumlah fakta unik dan menarik yang ditemui.

1. Nama resmi kelompok tersebut adalah Padepokan Garuda Nusantara namun lebih dikenal sebagai Tunggal Jati Nusantara yang berdiri pada 2017, dan beralamat di Jalan Tengiri RT. 03 RW. 06 Dusun Botosari Desa Dukuhmencek Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember.

2. Rumah Nur Hasan menjadi pusat kegiatan kelompok ini, umumnya terkait dengan praktik penyembuhan penyakit non-medis. Selain di rumah Nur Hasan, beberapa kegiatan ritual dilakukan di Mushalla milik Huda, guru Nur Hasan sewaktu MTS dan sekaligus salah satu pemimpin zikir dalam kelompok ini.

3. Nur Hasan beberapa melakukan tarawih, tadarusan di bulan Ramadhan, dan sebagainya di Masjid Al Fatah yang berjarak 50 meter dari rumahnya.

4. Nur Hasan tidak mempunyai riwayat pendidikan pesantren, dan pernah bersekolah di MTS Sunan Ampel Sukorambi Jember.

5. Nur Hasan pernah bekerja di Malaysia dan suka berkelana ke berbagai tempat yang untuk mempelajari beberapa ilmu gaib. Dia tertarik dengan ilmu gaib sejak muda.

6. Nur Hasan mengaku di hadapan muridnya mempunyai 99 orang guru, namun kebenaran klaim ini belum bisa dikonfirmasi.

7. Dalam aktivitas padepokan, ada dua orang guru Nur Hasan yakni Huda yang memimpin tawasul dan doa, dan Nur Shodiqin yang membekali bacaan wirid.

8. Nur Hasan mengaku mendapatkan selendang hijau dan blangkon dari Nyi Roro Kidul yang kerap dipakainya saat menjalani ritual di pantai selatan.

9. Beberapa pengikut kelompok ini menyebut sebagai kelompok Thariqat Sattariyah, karena Nur Shodiqin, guru Nur Hasan, mengaku sebagai mursyid Thariqat Sattariyah. Namun sama warga setempat sekali mengenal Nur Shodiqin sebagai tokoh agama dan tidak pernah melihatnya salat Jumat atau pun berjamaah di musala warga yang berlokasi di dekat rumah kontrakannya.

10. Nur Shodiqin sendiri menyebut Nur Hasan telah menyimpang dari ajarannya dengan melakukan hal baru yang tidak dia ajarkan. [wir/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar