Iklan Banner Sukun
Peristiwa

20 Desa di Jombang Rawan Bencana

Sosialisasi dan koordinasi pembentukan 20 Destana di Kabupaten Jombang, Kamis (7/10/2021)

Jombang (beritajatim.com) – Sedikitnya 20 desa yang ada di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, rawan bencana. Desa-desa tersebut berada di sepanjang aliran Sungai Konto. Yakni mulai Kecamatan Ngoro, Gudo, Bandar Kedungmulyo, serta Kecamatan Perak.

Oleh sebab itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang mengundang masing-masing Kades di 20 desa tersebut guna mitigasi serta kesiapsiagaan. Acara digelar di Gedung Siaga Centre, Kamis (7/10/2021). “Ini sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi banjir. Ada 20 desa yang kita undang,” kata Kepala BPBD Jombang Abdul Wahab.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Kabupaten Jombang Syamsul Maarif menambahkan, 20 desa rawan bencana tersebut masuk dalam empat kecamatan. Rinciannya, Kecamatan Ngoro terdapat enam desa, yakni Ngoro, Genukwatu, Pulorejo, Banyuarang, Kauman, serta Desa Jombok.

Kemudian di Kecamatan Gudo terdapat empat desa yang rawan. Meliputi Desa Begasur Kedamean, Gudo, Wangkal Kepuh, serta Desa Pucangro. Lalu di Kecamatan Perak terdapat tiga desa, yakni Jatiganggong, Kepuhkajang, dan Sumberagung. Sedangkan di Kecamatan Bandarkedungmulyo terdapat tujuh desa rawan bencana. Masing-masing Desa Barongsawahan, Kayen, Gondangmanis, Bandarkedungmulyo, Mojokambang, Pucangsimo, serta Desa Brodot.

Puluhan desa tersebut, lanjut Syamsul, masuk dalam klaster bencana Gunung Kelud. “Sungai Konto merupakan jalur lahar dari Gunung Kelud. Nah, saat musim hujan, sungai tersebut rawan meluap hingga terjadi banjir. Sebanyak 20 desa itulah yang berada di sepanjang aliran Sungai Konto,” ujar Syamsul.

Oleh karena itu, menghadapi datangnya musim hujan, desa-desa itu diminta meningkatkan kesiapsiagaan. “Salah satu upaya yang kita lakukan adalah membentuk Destana (Desa Tangguh Bencana) di wilayah tersebut. Yakni desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dan menghadapi ancaman bencana. Serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan,” kata Syamsul.

Syamsul menambahkan, Destana juga memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman bencana di wilayahnya dan mampu mengorganisir sumber daya masyarakat untuk mengurangi kerentanan. Juga sekaligus meningkatkan kapasitas masyarakat demi mengurangi risiko bencana.

“Kemampuan ini diwujudkan dalam perencanaan pembangunan yang mengandung upaya-upaya pencegahan, kesiapsiagaan, pengurangan risiko bencana dan peningkatan kapasitas untuk pemulihan pasca keadaan darurat. Ini tadi sudah kita sosialisasikan ke masing-masing. Target kita paling lambat sudah terbentuk Destana di 20 desa itu,” lanjutnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim Gatot Soebroto

Syamsul memastikan, jumlah desa rawan bencana tersebut jumlahnya bertambah. Pasalnya, masih ada daerah aliran sungai lainnya yang selama ini rawan banjir. Diantaranya daerah aliran Sungai Gunting, Afvour Watudakon, Sungai Ngotok Ring Kanal, serta Sungai Marmoyo.

Selain Kades, acara tersebut juga dihadiri Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim Gatot Soebroto, serta pengurus FPRB (Forum Pengurangan Risiko Bencana) Kabupaten Jombang. Dalam forum tersebut Gatot menjelaskan pentingnya pembentukan Destana.

Gatot menyebut di Jatim terdapat 8.501 desa/kelurahan. Dari jumlah itu, sebanyak 2.742 desa/keluarahan masuk dalam rawan bencana kategori tinggi. “Dari 2.742 desa rawan bencana tersebut, 702 di antaranya sudah membentuk Destana. Jadi masih banyak yang belum membentuk Destana,” kata Gatot. [suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar