Peristiwa

2.700 Hektare Lahan Kritis TN Meru Betiri Picu Banjir

Penghijauan di Taman Nasional Betiri. [foto: Humas Unej]

Jember (beritajatim.com) – Dari total luas lahan 580 kilometer persegi Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur, ribuan hektare di antaranya termasuk lahan kritis. Salah satu penyebab terjadinya banjir setiap tahun di Kabupaten Jember adalah karena berkurangnya jumlah pohon di sana.

Luh Putu Suciati, doktor Fakultas Pertanian Universitas Jember mengatakan, luas lahan kritis Meru Betiri sekitar 2700 hektare. “Yang sering terjadi adalah pembalakan liar oleh pihak-pihak luar sehingga itulah yang mengakibatkan terjadinya banjir,” katanya, sebagaimana dilansir Humas dan Protokol Universitas Jember, Senin (8/2/2021).

Ada tiga desa penyangga TNMB di Kecamatan Tempurejo yakni Desa Wonoasri, Curah Nongko, dan Andungrejo, yang semuanya dilalui daerah aliran Sungai Mayang. Banjir sering terjadi di ttiga lokasi ini. Pemerintah sudah membangun tanggul untuk tiga desa itu. Selain itu masyarakat di sana juga membuat desa tangguh bencana yang dipersiapkan menghadapi banjir.

Namun tiap Wonoasri tetap menjadi pelanggan banjir. “Tutupan lahan di atas tidak bisa mengimbangi curah hujan yang cukup tinggi. Jadi memang Wonoasri tiap tahun selalu banjir,” kata Ni Luh. Apalagi secara tipologi wilayah, Wonoasri seperti mangkok, sehingga menyebabkan air mudah menggenang.

Ni Luh menyarankan agar ada perbaikan drainase yang mengalir ke muara. “Hulunya ada di Gunung Meru sana. Gunung Meru sudah mulai gundul. Masyarakat banyak yang menebang pohon dan menanam tanaman pangan seperti padi dan jagung, yang kurang kuat akarnya,” katanya.

Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri Maman Surahman membenarkan jika tutupan lahan hutan di tiga desa itu berkurang dan tak cukup menahan air hujan. “Kami berupaya memulihkan ekosistem,” katanya. Sejak 2017 TNMB telah berupaya agar hutan tetap sebagai penyangga penahan air. [wir/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar