Peristiwa

179 Kecelakaan di Tol Jombang-Mojokerto, 4 Korban Meninggal

Kendaraan yang melintas tol Jombang - Mojokerto (Jomo), Selasa (24/12/2019). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Selama 2019, terjadi 179 kecelakaan di jalan tol Jombang – Mojokerto (Jomo). Dari jumlah tersebut sebanyak empat korban meninggal, sisanya luka ringan. Sebagian besar, kecelakaan disebabkan oleh human eror, yakni pecah ban dan pengemudi mengantuk.

Sementara pada 2018 kecelakaan di tol Jomo sebanyak 80 kejadian. Dari jumlah itu, korban meninggal dua orang, sedangkan luka ringan 80 orang. “Jadi ada peningkatan jumlah kecelakaan dari 2018 ke 2019. Terjadinya kecelakaan itu 95 persen disebabkan pecah ban dan pengemudi mengantuk,” kata Kepala Departemen Operasi Pemeliharaan dan Public Relation, PT Astra Infra Toll Road Jomo, Deni Hardani, Selasa (24/12/2019).

Kawasan mana saja yang menjadi titik rawan kecelakaan? Deni menjelaskan, titik kecelakaan di tol Jomo bersifat sporadis. Artinya, tidak ada titik black spot kecelakaan. Karena penyebab kecelakaan bukan karena kondisi jalan, namun lebih pada human eror. Semisal pecah ban dan pengemudi mengantuk.

Sebagai langkah antisipasi terjadinya kecelakaan lalu lintas selama libur Nataru (Natal dan Tahun Baru), pengelola tol Jomo melakukan sejumlah langkah. Di antaranya, menyiagakan personel patroli, kemudian menyiapkan mobil derek, ambulans dan mobil rescue. “Seluruh layanan tersebut siaga selama 24 jam,” ungkapnya.

Sedangkan untuk kenyamanan pengguna tol Jomo, pihak pengelola juga menambah beberapa fasilitas. Di bagian infrastruktur, ada penambahan rambu-rambu di sepanjang tol Jomo. Kemudian ketika terjadi penumpukan kendaraan di gerbang tol, pengelola menyiapkan mobile rider sebanyak lima unit.

“Nah, ketika terjadi antrean, petugas kami yang mendatangi pengguna tol untuk melakukan typing. Kami juga mengoperasikan 18 gerbang. Fasilitas rest area kita tambahkan tujuh toilet gratis. Kita memiliki empat rest area,” pungkas Deni. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar