Peristiwa

Survei LSI Denny JA

17 Persen Warga Jember Tak Percaya Corona, 19 Persen Anggap Tak Berbahaya

Peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar

Jember (beritajatim.com) – Hasil survei yang digelar Citra Publik – Lingkaran Survei Indonesia Denny JA di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menunjukkan masih adanya warga yang tak percaya dengan keberadaan Covid-19 dan menganggapnya tak berbahaya.

Berdasarkan jajak pendapat terhadap seribu responden di 31 kecamatan, 9-13 Juli 2020, ditemukan adanya 17,1 persen warga Jember yang tak percaya dengan keberadaan virus corona atau Covid-19. Selain itu, 19,1 persen responden menganggap Covid-19 tak berbahaya dan 22,5 persen menganggapnya biasa saja.

Padahal, pengetahuan responden terhadap Covid-19 cukup memadai. Sebanyak 90 persen responden tahu, jika Covid-19 cepat menular, 90.8 persen tahu jika pasien Covid-19 berisiko meninggal, dan 81,5 persen mengetahui gejala terkena penyakit itu.

Namun kekhawatiran warga terbagi tak hanya terhadap masalah kesehatan, melainkan juga masalah ekonomi. Sebanyak 80,5 persen responden mengaku khawatir jatuh sakit, 79,7 persen responden mengaku takut tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, 75,5 persen warga takut kelaparan, dan 74,5 persen khawatir tak memperoleh pekerjaan.

Peneliti senior LSI Denny JA, Rully Akbar menilai, sikap masyarakat tergantung pada akses informasi yang diperoleh. “Inilah gunanya sosialisasi dengan menggunakan anggaran pemerintah daerah. Mereka menyosialisasikan dampak dan bahaya corona virus. Apa kira-kira proteksi yang bisa dilakukan masyarakat, seperti sosialisasi penggunaan masker, social distancing, dan segala macam, atau aktivitas ekonomi tetap bisa dibuka tapi harus mematuhi protokol kesehatan,” katanya, dalam konferensi pers di Hotel Aston, Kabupaten Jember, Selasa (28/7/2020).

Menurut Rully, sikap dan pandangan masyarakat itu sebenarnya bisa diubah. “Dengan sosialisasi yang baik, lalu pemerintah turun langsung ikut berkontribusi pada protokol kesehatan di semua segmen, otomatis masyarakat akhirnya mematuhi protokol tersebut. Makin besar anggaran yang diturunkan untuk bantuan kesehatan maupun ekonomi terhadap masyarakat, otomatis tidak ada persepsi masyarakat cemas atau menganggap (kondisi) kita makin terpuruk atau jauh lebih buruk,” katanya. [wir/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar