Iklan Banner Sukun
Peristiwa

11 Kiai NU Jatim Bakal Pimpin Mujahadah Kubro di Tegalsari Ponorogo

Ponorogo (beritajatim.com) – Jelang peringatan 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU) yang jatuh pada 16 Rajab 1444 hijriah, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur membuat serangkaian kegiatan. Salah satunya Mujahadah Kubro yang akan dilaksanakan pada Minggu (19/6/2022).

Kegiatan yang akan didoakan oleh 11 kiai dan diikuti oleh 9999 kader NU Jawa Timur itu, bertempat di Masjid Tegalsari, Kawasan Makam KH Ageng Muhammad Besari, Desa Tegalsari Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo.

“Alhamdulillah kegiatan mujahadah kader diadakan kembali. Selama pandemi Covid-19 pada dua tahun terakhir ini mujahadah kader tidak bisa diselenggarakan,” kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Ponorogo, Fatchul Aziz, Minggu (19/6/2022).


Mujahadah Kubro yang akan didoakan oleh 11 kiai NU Jatim itu diantaranya Rois Aam NU KH. Miftachul Akhyar, KH Anwar Mansur, KH Ali Masyuri, KH Abd Adhim Kholili, KH Matin Jawahir, KH Marzuki Mustamar, KH Moh Solechan Al Hafidz, KH Ali Maschan Musa, KH Mutawakil Allalah, KH Fahmi Amrullah, KH Abdus Sami Hasyim, dan KH. Lukman H Dimyati.

Lokasi Mujahadah Kubro ini dipilih Masjid Tegalsari, karena mempunyai historis, sebab berada di Komplek Makam KH Ageng Muhammad Besari, yang merupakan sosok ulama pendakwah Islam yang sukses, hingga nama Tegalsari terkenal se-Nusantara.

Bahkan saat dipimpin cucu dari KH Ageng Muhammad Besari yakni Muhammad Hasan Besari, banyak melahirkan beberapa tokoh besar seperti Pangeran Diponegoro dan Syeh Burhan. “Ada beberapa lokasi di Ponorogo yang kita tawarkan, namun panitia dari PWNU Jatim akhirnya memilih Tegalsari,” ungkap Aziz.

Pendakwah Islam dari Tegalsari ini, banyak melahirkan tokoh atau utama besar. Salah satu pendiri NU, Hadratusyeh KH Hasyim Asyari juga merupakan keturunan dari Tegalsari. Selain itu juga ada nama besar seperti Raden Ngabehi Ronggowarsito, dan tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Tjokroaminoto mempunyai hubungan erat dengan Tegalsari.

Bahkan, Aziz mengatakan bahwa pondok pesantren besar NU seperti Pondok Lirboyo, Ploso, Jampes, Tremas, masih mempunyai nasab sampai Tegalsari. “Pendiri Pondok Pesantren Tremas Pacitan, KH Abdul Mannan juga pernah nyantri di Tegalsari,” katanya.

Aziz berharap Mujahadah Kubro nanti bisa berjalan dengan lancar. Para kader NU bisa memanfaatkannya secara optimal untuk memperkuat energi perjuangan Islam dari pendahulu, yakni KH. Ageng Muhammad Besari dan Kiai Muhammad Hasan Besari. “Dengan adanya kegiatan Mujahadah Kubro dengan didoakan 11 Kai Jatim ini mendapatkan keberkahan bagi dakwah Islam Aswaja,” pungkasnya. [end/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar