Peristiwa

10 Tahun Lebih Bersama, Nenek Berharap Pembunuh Ardio Segera Tertangkap

Nenek korban menunjukan foto korban semasa hidup. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Ardio Wiliam Oktavianto (13), pelajar kelas 4 SDN Ketemas Dungus, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto yang ditemukan menjadi mayat di bawah Jembatan Gumul KM Lamongan 32+400, tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Korban tinggal bersama neneknya sejak usia 2 tahun.

Ditemui di rumah duka, nenek korban, Miskah (55) mengatakan, jika korban merupakan cucu pertama dari putrinya, Siti Asiyah (35). Sejak bercerai dari Iwan (36), korban tinggal bersama neneknya di Dusun Ketemas, Desa Ketemas Dungus, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

“Sebelum ikut saya, Dio (korba ) diramut (dijaga) buyutnya. Setelah buyutnya meninggal, ikut saya di sini. Sejak usia 2 tahun ditinggal ibunya kerja di Batam, dia sudah tinggal sama saya di sini. Anaknya ya baik, tidak pernah bertengkar sama teman-temannya,” ungkapnya, Jumat (31/1/2020).

Masih kata Miskah, korban jika keluar rumah selalu pamit dan jika pergi main tidak jauh dari rumah neneknya. Menurutnya, sebelum peristiwa yang menimpa cucunya dan ditemukan sudah tidak bernyawa di bawah jembatan perbatasan Kecamatan Kemlagi dan Dawarblandong, tidak ada masalah apapun antara korban dan keluarga.

“Selama ini, tidak ada masalah. Tiap hari pulang, meski malam juga pulang dia (korban). Katanya, kemarin itu dia bermain keh-keh’an (glangsing) depan rumah sebelah bersama teman-temannya, tiba-tiba datang orang pakai sepeda motor dan membawa cucu saya. Itu kata temannya,” jelasnya sembari berharap pembunuh Ardio segera tertangkap.

Miskah menjelaskan, Dio yang saat ini duduk di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Ketemas Dungus. Dio tidak naik kelas dua kali sehingga usia lebih tua dibanding anak untuk kelas 4, karena Dio seharusnya duduk di kelas 6. Sejak bercerai ibu Dio sudah menikah lagi dengan warga Blitar dan dikaruniai dua orang anak.

“Saat ini, ibunya bekerja di Batam jadi jarang ketemu. Sejak tinggal sama saya, ketemu ibunya dua kali. Tanggal 30 Desember 2019, ketemu disini dan tanggal 16 Januari 2020 kemarin, diajak ke Blitar didampingi budenya ini (sembari menunjukan perempuan di sampingnya),” ujarnya.

Sementara bapak Dio, sebagai petani di Dusun Sumbersari, Desa Badung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Pihak keluarga mengaku, tidak ada tanda-tanda atau firasat kalau korban akan meninggalkan keluarganya untuk selama-selamanya. Pihak keluarga berharap pelaku tertangkap jika korban merupakan korban pembunuhan. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar