Pendidikan & Kesehatan

Waspadai TBC di Masa Pandemi Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Pandemi Covid-19 di Indonesia kembali memasuki gelombang kedua dan menyebabkan tidak terkendalinya penularan. Hal itu lantaran banyak rumah sakit bed occupancy rate (BOR) telah penuh pasien.

Adanya situasi itu, Pusat Kajian Hukum Bisnis Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan pengabdian masyarakat dengan topik Penanganan Pelayanan Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19.

Dr. Zahry Vandawati Chumaida, S.H., M.H., selaku ketua pelaksana menuturkan bahwa kegiatan yang dilakukan secara virtual melalui zoom meeting, Sabtu (26/06/21) itu bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai Tuberkulosis (TBC) dan Covid-19. Edukasi tersebut menyasar pada masyarakat Desa Masangan Kulon Peterongan Sidoarjo.

Dr. Imran Pambudi MPHM dari Kementrian Kesehatan Indonesia sebagai pemateri menekankan bahwa TBC dapat disembuhkan dengan berobat teratur sampai selesai. Sebagian besar, sambungnya, kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ atau bagian tubuh lainnya.

“TBC dapat menyerang siapa saja, terutama usia produktif/masih aktif bekerja dan anak-anak. Gejala utama TBC adalah batuk berdahak maupun tidak berdahak. Gejala lainnya adalah demam meriang, batuk berdahak yang dapat bercampur darah, nyeri dada, berkeringat tanpa sebab terutama pada sore-malam hari, nafsu makan turun, dan berat badan juga turun,” tuturnya.

Dr. Imran juga mengungkapkan bahwa pencegahan penularan TBC dapat dilakukan dengan cara menelan obat anti TBC secara lengkap dan teratur sampai tuntas. Selain itu, menutup mulut saat batuk dan atau bersin, membuang dahak atau ludah di tempat tertutup, dan menjemur alat tidur.

“Membuka jendela, makan makanan bergizi, tidak merokok dan minum minuman keras, olahraga teratur, rajin mencuci tangan, dan istirahat yang cukup,” tambahnya.

Penyakit TBC juga penting untuk dibahas di masa pandemi. Hal itu karena TBC masih menjadi beban masalah kesehatan di Indonesia hingga saat ini. Di saat yang bersamaan Indonesia juga menghadapi pandemi Covid-19 dan harus lebih diwaspadai oleh pasien TBC.

Dalam kegiatan tersebut juga membahas tentang Covid-19. dr. Martha Kurnia Kusumawardani, Sp.KFR selaku pemateri mengungkapkan bahwa vaksinasi Covid-19 bertujuan untuk membantu agar orang yang terpapar Covid-19 tidak langsung ke dalam kondisi kritis.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Dokter di RSUD Dr. Soetomo itu menuturkan bahwa vaksin dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat Covid-19. Vaksinasi juga dilakukan untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity untuk mencegah dan melindungi kesehatan masyarakat.

“Selain itu juga untuk melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh. Serta menjaga produktifitas dan meminimalisasi dampak sosial dan ekonomi,” ujar dokter Martha.

Dokter Martha menekankan bahwa vaksin tidak membuat penerimanya kebal 100 persen. Setelah vaksin pertama, antibodi baru terbentuk dalam jumlah yang rendah. Sehingga dibutuhkan vaksin kedua untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan untuk menciptakan antibodi yang memadai.

“Maka dari itu masih terdapat kemungkinan menjadi sakit ketika terinfeksi Covid-19. Walaupun kekebalan tubuh terhadap Covid-19 sudah lebih optimal dengan dua kali vaksin, namun apabila terpapar dengan viral load yang tinggi, maka jumlah virus yang berlebih dapat menembus kekebalan tubuh kita,” terang dokter RSUD Dr. Soetomo itu.

Dr. Martha mengingatkan bahwa meski sudah divaksin, masyarakat harus tetap menjalankan protokol kesehatan. Ia juga menganjurkan kepada masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi agar imunitas terjaga. Serta, hal paling penting untuk dilakukan saat ini adalah 6M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas, mendapatkan vaksinasi, dan menjauhi kerumunan. [but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar