Pendidikan & Kesehatan

Warung Kopi Jadi Pilihan Siswa di Mojokerto Kerjakan PR Sekolah

Mojokerto (beritajatim.com) – Sejumlah siswa tingkat SD, SMP hingga SMA di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto memilih daring (dalam jaringan) di warung kopi (warkop). Warkop dipilih, selain mengusir kejenuhan juga terkendala penggunaan kuota yang over di tengah pandemi Covid-19.

Meski warkop semestinya tak layak untuk dijadikan tempat pembelajaran siswa, tapi mereka tetap memilih mengerjakan di warkop ketimbang tempat lain. Salah satunya warkop yang menjadi jujukan para siswa adalah warkop di Desa Dawarblandong, Kecamatan, DawarBlandong, Kabupaten Mojokerto ini.

Warkop ini menjadi tempat belajar favorit para siswa di sekitar Desa Dawarblandong. Seperti Desa Simonganggrok dan Desa Sumberwuluh. Kendati bercampur dengan orang dewasa dan kepulan asap rokok, mereka tetap serius mengerjakan soal-soal daring dari masing-masing sekolah.

Seperti yang dilakukan Dewi Rosita (16). Siswi SMA Islam Simongagrok mengaku setelah dari sekolah mengambil buku, ia ke warkop untuk mengerjakan tugas daring dari gurunya. “Ini tadi habis ambil buku di sekolah, jadi sekalian mampir buat ngerjain tugas daring,” ungkapnya, Kamis (30/7/2020).

Ia dan teman-temannya terpaksa memilih mengerjakan daring di warkop karena sudah bosan mengerjakan tugas dari rumah selama pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada awal Maret lalu. Ia dan teman-teman, juga sering kali berpindah-pindah tempat untuk mengerjakan tugas sekolah yang diberikan melalui online tersebut.

“Gabut soalnya, jadi yah ngerjain di warkop saja bisa sama teman-teman. Bosan habis ngerjain pakai HP kalau di rumah, kangen juga belajar bareng sama teman-teman di sekolah. Nggak mesti sih di sini, pindah-pindah biasanya. Daringnya nggak tiap hari, biasanya dua hari sekali,” katanya.

Ia juga mengeluhkan paket kuota yang harus dipakai untuk mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Kuota bulanan yang sebelumnya cukup untuk digunakan selama satu bulan lamanya, kini hanya bertahan dua sampai tiga minggu saja. Biasanya, satu bulan Rp30 ribu atau Rp54 ribu, namun saat ini tak cukup

“Sekarang nggak sampai sebulan buat whatsapp, download video, daring juga, makanya numpang wifinya di warkop sambil minum santai. Sama teman-teman juga, jadi tidak sendiri. Tidak bosan, seperti di rumah. Di sini selain belajar dan mengerjakan tugas sekolah, juga bisa ketemu teman-teman,” ujarnya.

Hal yang sama diakui siswa SDN Dawarblandong, Devina Kartika Pramodya (11). Namun, ia belajar di warkop ditemani keluarganya. “Bosan sebenarnya, nggak suka belajar gini. Pingginnya seperti dulu, bisa belajar di sekolah. Lebih paham kalau dijelaskan langsung dan ketemu teman-teman juga,” tuturnya.

Sementara itu, pemilik warkop, Umiyati (60) mengakui, jika sejak adanya sistem pembelajaran daring, warkop yang dibukanya sejak awal tahun lalu seringkali ramai dan menjadi jujukan siswa para siswa. Mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA untuk mengerjakan tugas daring dari sekolah.

“Biasanya kalau siswa SD pukul 08.00 WIB pagi ke sininya, kalau yang SMP agak siangan, yang SMA sore sampai malam. Bisa dua sampai empat siswa datangnya, malah yang kuliahan juga menyediakan tugas di sini. Kata mereka ngerjakan di warkop enak, santai, wifi juga gratis, cuman beli minuman saja. Paling lama dua tiga jam ngerjain tugasnya sampai selesai,” tegasnya. [tin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar