Pendidikan & Kesehatan

Warga Lakardowo Minta PT PRIA Bongkar Timbunan Limbah

Mojokerto (beritajatim.com) – Ratusan warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto yang mengatasnamakan Pandowo Bangkit meminta agar pabrik pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), PT Putra Restu Ibu Abadi (PT PRIA) membongkar timbunan limbah di Desa Lakardowo.

“Tindak lanjut hasil audit, disebutkan jika KLHK akan menclean up sisa dari timbunan yang ada di rumah warga,” kata Koordinator aksi Pendowo Bangkit, Heru Siswoyo, Rabu (20/2/2019).

Masih kata Heru, tuntutan utama yakni timbunan limbah B3 yang ada di bawah lantai gudang PT PRIA sejak tahun 2010. Pasalnya, PT PRIA dinilai sudah melakukan timbunan sebelum pabrik belum beroperasi. Heru menjelaskan, jika ribuan ton yang ditanam di bawah gudang PT PRIA.

“PT PRIA baru mendapatkan izin tahun 2014, jadi mereka melakukan aktivitas terlebih dahulu termasuk aktivitas penimbunan kemudian mengurus izin. Ada ribuan ton yang ditimbun di bawah gudang, ada 61 jenis limbah B3 termasuk limbah medis, limbah cair, produk expired dan lainnya,” katanya.

Heru menegaskan, semua limbah terserah ditimbun dan hanya berapa persen saja yang dimanfaatkan. Menurutnya, imbas dari timbunan tersebut menimbulkan pencemaran asap dan air. Pendowo Bangkit juga sudah melakukan pemantauan di 100 sumur milik warga di Desa Lakardowo.

“Hasilnya ada 80 persen Total Dissolved Solid (TDS) melebihi baku mutu sehingga paling fatal adalah kwalitas air. Bahkan bayi yang baru lahir direkomendasikan pihak RS untuk menggunakan air kemasan, tidak ada surat tertulis kenapa tapi hanya disampaikan secara lisan saja,” ujarnya.

Hasil audit ada empat parameter yang melebihi baku mutu seperti seng, CO2, timbal dan lainnya. Ada tiga dusun yang tidak bisa dimanfaatkan air sumurnya yakni Dusun Kedungpalang, Sambigempol dan Sumber Wuluh. Menurutnya warga tidak mau audiensi tapi hanya menyampaikan tuntutan agar ditanggapi.

“Warga meminta PT PRIA menyampaikan langsung tanggapan dari tuntutan ke masyarakat, tidak lagi audiensi. Untuk timbunan limbah itu dimanfaatkan warga karena saat itu warga tidak tahu, warga membeli dari makelar, karyawan harganya mulai Rp150 ribu, Rp200 ribu per truk,” jalannya.

Heru menjelaskan, limbah tersebut dimanfaatkan warga untuk tanah uruk sejak tahun 2010. Limbah tersebut dibuat tanah uruk sebagai pengganti material pasir. Ada sebanyak 51 rumah warga yang menggunakan tanah uruk dari limbah tersebut, dua rumah diantaranya sudah di clean up oleh DLH Jawa Timur.

“Masih ada 49 rumah lagi yang belum di clean up. Kita tidak memberikan dealine tapi kita akan mendesak untuk segera melakukan clean up termasuk di bawah lantai gudang perusahaan karena PT PRIA tidak memiliki izin penimbunan. Harus dibongkar lantainya,” tuturnya.

Heru menjelaskan, karena dia merupakan mantan karyawan sehingga ia tahu jika penimbunan di bawah gudang perusahaan tersebut merupakan limbah dari sejumlah perusahaan yang ada di Jawa Timur dan Bali. Menurutnya, lahan perusahaan tersebut sebelumnya adalah jurang.

“Sebelah barat jalan jurang kemudian digali sampai ada kubangan, setelah dapat kumbangan limbah masuk baru ditutup tanah segar kemudian di cor di ketebalan 30 cm. Di tahun 2010 itu sudah dilakukan aktvitas pembangunan untuk pondasi,” tegasnya. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar