Pendidikan & Kesehatan

Viral di Medsos, Gadis Jetis Tinggal Tulang Berbalut Kulit Kini Jalani Perawatan di RSI Sakinah

Mojokerto (beritajatim.com) – Mifta Ramadhoni warga Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Sakinah, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Mifta dievakuasi ke RS milik Nahdatul Ulama (NU) ini setelah viral di media sosial (medsos).

Kondisi gadis 21 tahun tersebut hanya tulang terbalut kulit. Setiap harinya, ia hanya tiduran di kamar dan tinggal bersama ayahnya, Pordan Hariono (50) dan ibu tirinya, Amalia (36) serta dia saudara tirinya. Kondisi tubuh Mifta yang terus turun tersebut terjadi sejak tiga tahun lalu.

Perangkat desa, kecamatan, kepolisian, Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mojokerto merujuk ke RSI Sakinah pada, Selasa (12/2/2019) kemarin. Saat beritajatim.com mengunjunginya di ruang Sunan Drajat 8, tampak anggota DPRD Kabupaten Mojokerto, Rindawati tenggah menjenguk.

Sang ayah sempat menanyakan maksud dan tujuan hingga akhirnya bersedia bercerita soal kondisi anak pertama dari pernikahan pertamanya tersebut. “Dia ini depresi setelah ditinggal ibu dan neneknya meninggal. Sejak tiga tahun lalu, kondisinya drop dan berat badannya turun,” ungkapnya, Rabu (14/2/2019).

Masih kata Pordan, ibunya meninggal saat ia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas IV. Kondisinya makin depresi setelah neneknya meninggal saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas I. Meski sudah tak mau bersekolah, Mifta masih sering bermain dengan teman-temannya.

“Tapi sejak tiga tahun lalu, kondisinya drop, sering jatuh dan berat badannya terus turun. Kalau makannya, mau. Porsinya juga sama dengan orang pada umumnya tapi sekarang hanya dua kali. Pagi makan roti dan susu, sore baru makan nasi. Sebelum tinggal sama saya, dia pindah-pindah,” katanya.

Sejak kecil, cerita Pordan, Mifta tinggal di Surabaya di rumah saudaranya. Kemudian pindah ke rumah nenek buyutnya di Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto dan terakhir tinggal bersama neneknya di Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto hingga neneknya meninggal.

“Setelah neneknya meninggal, dia tinggal sama saya. Saya sudah menikah dengan istri saya orang Jetis dan dikarunia dua anak. Dia itu kalau ada maunya, kemauannya harus dituruti. Kalau tidak dituruti maka akan gondok dan nangis. Sama saya memang tidak cocok, mungkin karena tidak sama pemikiran,” tuturnya.

Pordan menjelaskan, jika Mifta sudah gondok maka diam dan tidak mau memberikan tahu. Menanggani kabar yang beredar jika ia sering mengalami kekerasan, Pordan menampik. Namun ia tak berkilah jika pernah memukul, saat disuruh tidak mau. Namun ia menampik jika sakit anaknya karena sering mengalami kekerasan.

“Tidak pernah. Kalau disuruh tidak mau paling ya saya pukul tapi sakit ini tidak karena sering dipukul. Selama dia dalam kondisi seperti ini, apa-apa ya saya yang merawat. Mandi hingga buang air besar karena ibunya (ibu tiri, red) baru saja operasi dan masih mengurus anak saya yang kecil,” tutur pensiunan karyawan pabrik kertas ini.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar