Pendidikan & Kesehatan

Vaksin Varicella Proteksi 80 Persen Tubuh Manusia dari Cacar Monyet

Seorang anak di benua Afrika terserang virus cacar monyet. (Foto: AFP/BBC)

Malang(beritajatim.com) – Merebaknya penyakit cacar monyet saat ini membuat sebagian masyarakat khwatir. Ternyata virus cacar monyet atau Monkeypox bisa dicegah sejak dini dengan pemberian vaksin cacar air atau varicella.

Pakar Penyakit Kulit dan Kelamin dari FK UB dr. Sinta Murlistyarini, SpKK mengatakan merebaknya virus cacar monyet bisa diantisipasi dengan vaksin varicella dengan angka proteksi sebanyak 80 persen.
Dia menambahkan bahwa pada dasarnya gejala penyakit cacar monyet hampir sama dengan cacar air seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, muncul bintil-bintil berisi air di seluruh tubuh, dan ruam kulit muncul pada wajah.

Namun yang membedakan adalah pada hari kelima hingga ketujuh bintil-bintil berisi air menjadi bernanah dan agak keras saat disentuh. Pada akhir minggu kedua, bintil bintil tersebut akan menjadi keropeng yang bertahan sekitar satu minggu.

“Setelah tiga minggu, ruam akan menghilang. Setelah hilang, bintil-bintil tidak akan lagi menular,” kata Sinta, Jumat, (24/5/2019).

Cacar monyet termasuk penyakit zoonotic atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia, atau manusia ke hewan. Penularannya melalui gigitan, cakaran, kontak langsung dengan darah, cairan tubuh atau lesi di kulit dan mukosa dari hewan liar seperti primata (monyet), rodents, dan juga makan daging hewan yang terinfeksi yang tidak dimasak dengan baik.

“Cacar monyet rentan menyerang ke orang yang kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi baik melalui darah, cairan tubuh, urin, atau kulit. Makan daging satwa terinfeksi yang tidak dimasak dengan baik, kontak langusng dengan penderita yang terkena saluran pada saluran pernafasan, atau terkena cairan pada plenting di kulit,” paparnya.

“Penularan antar manusia bisa terjadi namun tidak mudah dan terbatas. Penularannya bisa melalui cairan pernafasan (batuk, bersin) atau luka pada kulit,” imbuhnya.

Sudah sejak beberapa tahun (sejak 1970) yang lalu cacar monyet menular dari hewan yang terinfeksi. Awalnya di Republik Demokratik Kongo, lalu tahun 2007 menjadi Kejadian Luar Biasa di Nigeria. Di Indonesia baru ramai dibicarakan karena ada kasus di singapura yang berasal dari warga negara Nigeria.

“Perlu ada screening khusus di bandara terhadap wisatawan asing yang akan masuk ke Indonesia terutama dari Singapura atau negara endemis cacar air (Afrika tengah dan Afrika barat),” ujarnya.

Sementara itu, Staf Lab Ilmu Penyakit Dalam Division Tropik Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dr. Didi Candradikusuma SpPD (K) memaparkan bahwa monkeypox atau cacar monyet merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox.

Virus ini termasuk golongan orthopoxvirus yang termasuk di dalamnya adalah variola virus (penyebab penyakit cacar small pox), virus vaccinia (digunakan untuk vaksin terhadap variola virus) dan virus cowpox.

“Jadi monkeypox virus satu golongan dengan virus variola yang dikenal sebagai penyebab cacar yang sudah dinyatakan punah oleh WHO pada pertengahan tahun 1980an. Akan tetapi berbeda dengan virus cacar air (Varicella) yang saat ini masih sering timbul di masyarakat,” kata Didi.

Dia mengatakan, reservoir alami dari virus monkeypox ini masih belum jelas, namun beberapa spesies tikus Afrika diduga berperan dalam transmisi penyakit ini. Terdapat dua kelompok genetik virus monkeypox yakni Central African dan West African.

Manusia yang terinfeksi oleh virus monkeypox central african nampaknya lebih berat secara klinis dibanding yang terinfeksi oleh kelompok virus west african dengan angka kematian yang cukup tinggi. Transmisi dari manusia ke manusia terjadi pada Central African virus, namun sangat terbatas untuk virus monkeypox yang West African.

“Pencegahan terhadap penyakit Monkeypox ini antara lain dengan menghindari kontak dengan tikus dan primata terinfeksi serta membatasi paparan langsung terhadap darah dan daging hewan liar. Membatasi kontak fisik dengan orang yang terinfeksi atau bahan yang terkontaminasi harus dihindari, memakai sarung tangan dan pakaian pelindung lainnya yang sesuai saat menangani hewan yang terinfeksi dan saat merawat orang yang sakit. Petugas kesehatan dianjurkan melakukan vaksinasi, dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” tandas Didi. (luc/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar