Pendidikan & Kesehatan

Selain Mampu sebagai Preventif

Vaksin Oral dari Dr Satria Bersama LSHTM Mampu Jadi Terapi Pengobatan Covid-19

Surabaya (beritajatim.com) – Saat ini London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) di Inggris yang merupakan Universitas peringkat 1 di dunia untuk bidang Kedokteran Tropis sedang bekerja sama dengan Immunitor Inc. dan Archivel Farma, S.L. yang merupakan lembaga pengembangan vaksin non-profit di Eropa sedang dalam proses pengembangan Vaksin Covid-19.

Melalui Dr Satria Arief Prabowo, MD PhD yang merupakan tim Research Fellow di LSHTM, kepada beritajatim.com mengatakan bahwa vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan merupakan Vaksin Oral, yang dikembangkan bersama konsorsium berbagai negara, antara lain Kanada, Rusia, Ukraina, China, Inggris, Mongolia.

Vaksin Oral Covid-19 ini pun berbentuk tablet yang dapat diminum, dan prototipe dari Vaksin Oral ini sudah siap serta sudah dalam tahap uji klinis di Kanada dan Rusia.

“Strategi ini lebih efesien dan dapat diberikan kepada lebih banyak orang dalam waktu lebih singkat, dibandingkan injeksi (suntikan),” ujar Dr Satria, Senin (15/6/2020) melalui sambungan telepon dari London, Inggris.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) ini menegaskan bahwa Vaksin Oral ini berbeda dengan obat, meskipun sama sama berbentuk tablet atau kapsul yang dapat diminum. Vaksin ini konsepnya meningkatkan kekebalan tubuh atau imunitas, sedangkan obat tujuannya untuk membunuh virus.

“Karena vaksin itu adalah partikel yang memiliki materi genetik yang dimasukkan ke sel manusia, sehingga menyebabkan sakit. Jika bakteri ini efisien di target dengan antibiotik tapi virus ini memang harus diberikan anti virus yang saat ini sedang diteliti, tapi juga diperlukan sistem kekebalan tubuh. Maka itu kami disini fokus mengembangkan vaksin,” terang pemuda yang mendapatkan gelar doktor diusia 25 tahun ini.

Vaksin Oral ini pun memiliki 3 kelebihan, yakni selain berbentuk tablet yang bisa langsung di minum sehingga tidak membutuhkan alat bantu lainnya, selain itu Vaksin Oral yang dikembangkan oleh Tim Research LSHTM ini juga mampu menjadi pencegah Covid-19 dan sebagai terapi bagi penderita yang sudah sakit.

“Pengembangan Vaksin Terapeutik Oral dipilih karena vaksin yang diberi nama V-SARS-Covid-19 ini mengandung komponen virus yang sudah terinaktivasi. Sehingga aman diberikan baik kepada orang sehat untuk mencegah penyakit (preventif) maupun kepada orang sakit untuk mempercepat dan meningkatkan kesembuhan (vaksinasi terapeutik),” jelas peraih Rekor Muri sebagai Doktor Bidang Ilmu Kedokteran Termuda ini.

Konsep Vaksin Terapeutik Oral ini pun sebelumnya juga pernah diterapkan oleh tim Research LSHTM untuk penyakit tuberculosis (TB), Dr Satria pun juga menjadi salah satu tim research utamanya. Hasil dari penelitian dan pengembangan Vaksin Terapeutik Oral TB oleh Dr Satria dan tim pin telah melalui uji klinis sudah sampai sesi 3 dan telah diproduksi ribuan dengan hasil yang memuaskan dan saat ini telah dalam proses lisensi.

“Untuk pengembangan vaksin TB itu juga sama vaksin oral, untuk pencegahan kami berikan satu kali bisa melindungi 10 sampai 15 tahun, dan untuk terapi kepada orang yang sudah sakit kami berikan sekali sehari selama sebulan, hasilnya lebih baik daripada dengan pengobatan saja. Jadi selain itu pencegahan Vaksin Terapeutik Oral ini juga bisa untuk mempercepat dan meningkatkan kesembuhan,” paparnya.

Dr Satria menjelaskan, Vaksin Terapeutik Oral untuk Covid-19 atau V-SARS-Covid-19 inipun bisa diberikan kepada orang sehat sebagai preventif atau pencegahan Covid-19 dengan di minum sebanyak satu kali satu tablet. Sedangkan untuk orang yang sudah terpapar Covid-19 juga bisa diberikan sebanyak 1 kali sehari selama 2 minggu hingga 1 bulan sebagai terapeutik.

“Untuk orang sehat untuk pencegahan bisa sekali saja dan efeknya bisa melindungi cukup lama, kita hitung di uji klinis bisa bertahan selama 10 tahun. Namun bagi yang sedang sakit, karena daya tahan tubuhnya menurun karena terus menerus diserang virus, vaksin ini bisa digunakan sebagai terapeutik dan dikonsumsi selama 2 hingga 4 minggu sebanyak sekali sehari,” terang Dr Satria.

Adapun riset mengenai vaksin TB yang dilakukan oleh Dr Satria telah dipresentasikan di beberapa kongres internasional bergengsi seperti pada kongres European Society for Paediatric Infectious Diseases (ESPID) di Madrid, Spanyol (Mei 2017) dan Ljubljana, Slovenia (Mei 2019), World Global Forum for Tuberculosis Vaccines di New Delhi, India (Februari 2018), dan World Conference of the International Union against Tuberculosis and Lung Diseases (IUATLD) di Liverpool, Inggris (Oktober 2017).

Sampai saat ini pun Dr Satria telah memiliki 11 karya publikasi di jurnal internasional bereputasi yang terindeks Pubmed dan Scopus. [adg/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar