Pendidikan & Kesehatan

Vaksin Covid-19 untuk CJH, Kemenag dan Dinkes Kabupaten Mojokerto Tunggu Juknis

Caption : Proses manasik haji di Lapangan Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. [Foto: dok]

Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Arab Saudi mengumumkan calon jemaah yang hendak mengikuti ibadah haji harus sudah menerima vaksin Covid-19. Hal tersebut merupakan persyaratan untuk dapat melakukan ibadah haji di tahun 2021.

Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mojokerto, Mukti Ali mengatakan, sampai saat ini Kemenag Kabupaten Mojokerto masih menunggu pengumuman resmi serta petunjuk teknis (juknis) terkait pelaksanaannya.

“Kami masih menunggu juknisnya apakah tahun ini, Pemerintah Arab Saudi membuka penyelenggaraan ibadah haji tahun 2021. Jika tahun ini dibuka maka yang berangkat adalah CJH yang masuk kuota haji tahun 2020,” ungkapnya, Sabtu (6/3/2021).

Lantaran musim haji tahun 2020 dibatalkan akibat pandemi Covid-19 sehingga Calon Jamaah Haji (CJH) tersebut diprioritaskan berangkat musim haji tahun ini. Dari 1.570 CJH kuota tahun 2020, lanjut Mukti, yang melunasi sebanyak 1.261 CJH.

“Apakah kuota tetap 100 persen? Pemerintah sudah menyiapkan skema tentang hal ini. Namun kami sudah melakukan persiapan, tahapan saat ini mulai dari persiapan visa CJH. Juknisnya tetap menunggu. Namun prioritas yang lansia juga memang tidak 100 persen,” katanya.

Mukti menambahkan, terkait vaksin Covid-19 untuk CJH, hal tersebut merupakan satu kesatuan dengan pemeriksaan kesehatan CJH yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto. Selain vaksin meningitis, vaksin pneumonia dan vaksin influenza, CJH juga harus menerima Covid-19.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Kabid P2P), Dinkes Kabupaten Mojokerto, dr Langit Kresna Janitra mengatakan, pihaknya juga masih menunggu juknis terkait vaksin Covid-19 untuk CJH. “Kita tidak bisa memberikan vaksin Covid-19 sembarangan,” ujarnya.

Masih kata Kabid P2P, mayoritas CJH Indonesia merupakan lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti). Yakni CJH yang memiliki potensi untuk sakit sehingga dapat disimpulkan jamaah risti memiliki peluang sakit lebih besar dari jemah biasa.

“Kita juga masih menunggu juknis terkait vaksin untuk CJH. Iya itu, karena mayoritas jemaah kita adalah lansia dan risti yang memiliki komorbid (penyakit penyerta). Tentunya akan ada skrining juga,” tegasnya. [tin/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar