Pendidikan & Kesehatan

Bawa Teknologi Mutakhir Untuk Kuliah Daring

Unusa Buka Lab Virtual Reallity dan Lab Microteaching

Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) terus menghadirkan inovasi terbaru dan yang paling dibutuhkan oleh instansi pendidikan di masa pandemi. Kali ini Unusa meluncurkan dan meresmikan dua laboratorium berteknologi tinggi, yakni Laboratorium Virtual Reality dan Laboratorium Microteaching, Jumat (5/2/2021).

Pembukaan Laboratorium Virtual Reality dan Microteaching dihadiri langsung oleh Prof Nuh, selaku Ketua Yarsis dan Menteri Pendidikan Periode 2009-2014, Prof Ir Nizam, M Sc Ph D selaku Dirjen Dikti Kemendikbud,
Prof Drs Mohamad Nasir, Ak M Si Ph D selaku Menristekdikti Periode 2014-2018 dan Prof Dr Ir Suprapto DEA selaku Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur periode 2018-2022.

Pembuatan laboratorium Virtual Reality dan Microteaching untuk keperluan belajar mengajar ini diklaim merupakan yang pertama di Jawa Timur. Laboratorium Virtual Reallity merupakan laboratorium yang memungkinkan mahasiswa belajar dan melakukan praktikum secara virtual tetapi dengan pengalaman yang dibuat senyata mungkin, dengan bantuan kacatama VR. Hal ini memungkinkan mahasiswa tetap bisa mengejar ketertinggalan belajar yang dialami karena kuliah daring selama pandemi.

Nuh menjelaskan, selain bisa dimanfaatkan secara bersama-sama, Lab ini sekaligus bisa disetup sebagai production house (PH) untuk menyiapkan materi pembelajaran daring. “Sepengetahuan saya dan informasi dari vendor, teknologi dan perangkat yang disediakan di lab microteaching ini baru Unusa yang menggunakannya di Indonesia. Kami ingin mengenalkan sekaligus mengajak mahasiswa memanfaatkan teknologi terkini,” katanya.

Nuh menjelaskan, keunggulan lab microteaching yang pertama di Indonesia digunakan di lingkungan lembaga pendidikan adalah karena memiliki interactive board sebagai pengganti white board. Interactive board adalah sebuah perangkan layaknya TV berukuran 50 sampai 80 inch dengan kemampuan touch screen. Dinamakan interactive board karena pengguna bisa langsung berinteraksi dengan apa yang ditampilkan di papan tersebut seperti, presentasi, video, dan lain lain. Selain itu agar mempermudah tenaga pengajar dalam menjelaskan suatu materi di lengkapi pula dengan teknologi bernama lightboard.

“Cara kerja teknologi ini cukup sederhana, mirip dengan papan tulis pada umumnya, namun alih-alih menggunakan papan, light board menggunakan kaca, sehingga tembus pandang,´katanya.

Secara terpisah Rektor Unusa, Prof Dr Ir Achmad Jazidie M.Eng., mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas upaya pihak yayasan yang ikut memikirkan terhadap kebutuhan mendesak di tengah keterbatasan proses pembelajaran daring terkait dengan pelaksanaan praktikum.

“Kini praktikum tidak lagi menjadi kendala. Melalui lab virtual reality mahasiswa bisa melakukan praktikum secara virtual. Sementara di lab microteaching, mahasiswa bisa melakukan praktik mengajar yang sesungguhnya, sedang dosen bisa mensetup lab-nya untuk PH menyiapkan materi perkuliahan untuk daring dengan lebih baik,” katanya.

“Rasanya menghadapi Pandemi Covid-19, pengelola lembaga pendidikan tak hanya dituntut mampu beradaptasi tapi juga kreatif dan inovatif. Kehadiran Lab virtual reality adalah contoh kecil dalam memberikan jawaban terhadap model pembelajaran konvensional dalam hal praktikum, yang mewajibkan peserta didik hadir dalam satu laboratoroium untuk melakukan berbagai macam percobaan,” kata Jazidie menjelaskan.

Diungkapkan Rektor, Unusa mencoba menembus kebuntuan model pembelajaran konvensional, dalam hal ini praktikum di laboratorium dengan memanfaatkan teknologi virtual reality (VR). Sebagai perguruan tinggi swasta yang memiliki program studi dominan di bidang kesehatan, dimana praktikum menjadi prasyarat mutlak, Unusa terpikir untuk membuat terobosan dalam pembelajaran terkait dengan praktika mahasiswa. Ada cukup banyak pilihan yang hendak dilakukan, tapi pilihan terakhir jatuh pada pemanfaatan teknologi VR. Beberapa pertimbangannya antara lain, melalui pemanfaatan VR, mahasiswa sekaligus dituntut untuk melek terhadap Teknologi Informasi dan Komunikasi. sehingga mahasiswa memiliki digital literacy yang memadai.

“Kini di Lab VR sedikitnya sudah memiliki tujuh paket modul praktikum untuk mahasiswa kedokteran, keperawatan serta mahasiswa kebidanan. Ke depan paket modul praktikum ini akan terus ditambah, dan karena didesain sendiri oleh Unusa, maka modul-mudul ini sekaligus akan dipatenkan,” katanya.

Dalam pembukaan Lab VR hari ini juga diperaktikan mahasiswa Fakultas Kedokteran yang sedang menggunakan fasiltas VR untuk praktikum proses persalinan. Mahasiswa pun dibuat merasakana sensasi yang lebih nyata dari proses melahirkan dibanding hanya melihat video pembelajaran. [adg/but]



Apa Reaksi Anda?

Komentar